Ciptakan Keharmonisan Antar Umat Beragama di Wilayah Koramil Margorejo Pati

TH.Indonesia. Jakarta - Ketua Majelis Hakim Abdul Kohar mempertanyakan lamanya proses administrasi yang dilakukan pihak Dewan Pers selaku tergugat Perbuatan Melawan Hukum untuk membuktikan legal standingnya sebagai pemberi surat kuasa kepada ke dua pengacaranya Frans Lakaseru dan Dyah HP.

Hakim Pertanyakan legal standing pada kuasa hukum. 


Setelah diberi waktu selama satu minggu, kuasa hukum Dewan Pers masih tidak bisa menyerahkan dokumen yang diminta majelis hakim pada sidang sebelumnya, sebagai bukti bahwa Yoseph Adi Prasetyo memiliki legal standing untuk menunjuk keduanya sebagai kuasa hukum.

"Kenapa dokumen itu (keabsahan tergugat) begitu lama dibuat," tandas Ketua Majelis Hakim Abdul Kohar saat sidang ke 3 berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis tgl (31/05/18) siang.

Menjawab pertanyaan majelis hakim, Frans Lakaseru selaku kuasa hukum Dewan Pers menjelaskan bahwa kliennya selaku principal masih mengumpulkan dokumen untuk memenuhi permintaan hakim.

Sementara, Kuasa hukum penggugat, Dolfie Rompas mengaku heran atas lamanya administrasi yang dilakukan pihak Dewan Pers untuk membuktikan bahwa Yoseph Adi Prasetyo memiliki legal standing untuk bertindak sendiri atas nama Dewan Pers menunjuk kuasa hukum.

"Jika mengacu pada hukum acara, seharusnya dalam tiga kali sidang tergugat tidak hadir atau tidak mampu menunjukan bukti memiliki legal standing dalam menghadapi gugatan ini maka hakim bisa memutuskan Verstek," ujar Rompas kepada awak media usai sidang.

Namun begitu Rompas mengaku pihaknya beritikad baik memberi kesempatan kepada kuasa hukum Dewan Pers untuk memenuhi permintaan majelis hakim sampai pada sidang pekan depan.

"Saya berharap Dewan Pers bisa ikut sidang agar semua permasalahan bisa terungkap dalam persidangan," imbuhnya.

Sedangkan Tondi Situmeang, kuasa hukum penggugat yang turut hadir dalam persidangan  mengatakan, jika pihak kuasa hukum Dewan Pers tidak bisa membuktikan legal standingnya pada sidang pekan depan maka hakim berhak memutuskan untuk melanjutkan sidang dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi penggugat.

DP Harus Direformasi :

Menyikapi sidang kali ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Wilson Lalengke menganggap Dewan Pers sebagai lembaga yang tidak kredibel.

"Bagaimana mungkin sudah dua minggu Dewan Pers tidak bisa mengumpulkan bukti adminstrasi yang seharusnya sudah ada sejak lalu.

Ini menunjukan manajemen adminisitrasi Dewan Pers kacau dan tidak teratur sehingga perlu direformasi, atau bahkan harus dibubarkan," tegas Lalengke ketika dicegat wartawan usai sidang.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Republik Indonesia Heintje Mandagi ikut menyorot lamanya proses administrasi pembuktian legal standing penunjukan kuasa hukum Dewan Pers.

"Hari ini Dewan Pers membuktikan sendiri sebagai lembaga yang sangat tidak profesional. Bagaimana bisa dia (Dewan Pers) mau mengurus wartawan, media, dan organisasi pers, sedangkan mengurus administrasi internal saja tidak becus," pungkasnya.

Sidang lanjutan gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Dewan Pers ini akan dilanjutkan Kamis tgl (07/06/18) pekan depan. ($.tikno)

Hakim Pertanyakan Bukti Legal Standing Dewan PERS Sebagai Pemberi Kuasa Hukum

TH.Indonesia. Jepara - Pada bulan suci Ramadhan tahun ini, Organisasi masyarakat (ORMAS) LMPI (Laskar  Merah Putih Indonesia) Markas Cabang JEPARA menggelar kegiatan sosial dengan bagi-bagi Takjil, yang digelar di Jalan Kartini Jepara, Kamis tgl (31/05/18).

ORMAS LMPI cabang Jepara berbagi takjil di bulan ramadhan. 

Kegiatan bagi - bagi takjil kali ini, dilaksanakan langsung oleh Ketua ORMAS LMPI MACAB JEPARA, H. HENI PURWADI SH yang akrab di panggil Sultan Hannan beserta pengurus.

Sementara Sekretaris LMPI cabang Jepara G. Ambar prasetyo dan Waka Lmpi Khuswanto mengatakan “Kegiatan ini murni untuk mengenal lebih dekat dengan masyarakat, khususnya masyarakat JEPARA”

Selain itu, ORMAS LMPI MARCAB JEPARA, nantinya akan lebih peduli dan terbuka dengan kegiatan - kegiatan yang positif lainnya.

"Kami merasa senang, bisa membantu warga dalam bagi-bagi takjil ini, sehingga masyarakat bisa berbuka puasa dalam perjalanan," ujar Mas Adi.

Sementara itu, Toni (40) salah satu warga Jepara yang melintas mengatakan, kegiatan seperti ini patut dicontoh dan mendapat apresiasi dari masyarakat, karena, bisa membantu warga yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Saat berbuka puasa, warga yang melintas tidak kesulitan untuk berbuka puasa. Kami bangga dengan kegiatan yang diadakan ORMAS LMPI ini," ungkapnya.

Antusiasme masyarakat yang melintas di jalan kartini jepara sangat terlihat, dengan sibuknya para anggota LMPi saat membagikan takjil.

"Ada 450 bungkus takjil gratis yang dibagikan, dalam waktu sekitar 45 menit langsung habis,” ucap Mas Adi yang juga berprofesi sebagai Ketua Advokat/Pengacara. (Khuswanto)

Ormas LMPI Cabang Jepara Bagi - Bagi Takjil di Bulan Ramadhan

TH.Indonesia. PATI - Pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Permasyarakatan dan Desa (Dispermades) Kabupaten Pati Mohtar nampaknya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bupati Pati Haryanto, Kamis tgl (31/05/18).

Kadispermades MohMoh beda persepsi dengan Bupati Pati. 

Pasalnya, Mohtar sesuai pengakuannya bahwa untuk pengelolaan dana desa di tahun 2017 tidak ada masalah, namun sesuai pernyataan Bupati saat rapat dengan seluruh kepala desa se-Kabupaten Pati di aula kantor Dinas Pekerjaan Umum dan penataan ruang (DPUPR) Senin tgl (28/05/18) kemarin mengaku bahwa masih ada 14 desa yang belum menyerahkan laporan pertanggung jawaban penggunaan dana desa untuk tahun 2017.

Dalam pernyataanya itu, Bupati mengancam kepada 14 desa tersebut tidak akan bisa mencairkan anggaran dana desa tahun 2018, apabila laporan pertanggung jawaban 2017 tidak segera dibuat.

"Sangsinya, kami tidak akan mencairkan bantuan keuangan ditahun ini, karena surat pertanggung jawaban tahun 2017 saja belum selesai, masak akan ditambahi beban lagi bikin SPJ tahun 2018," ancam Haryanto pernyataan Bupati dengan Kadispermades itu sangat berbeda.

Buktinya, Mohtar yang diberi amanah untuk mengontrol penggunaan dana desa, terkesan tidak mau tranparans dan menutup-nutupi desa yang dianggap bermasalah terkait pertanggung jawaban penggunaan anggaran tahun 2017, sebab ketika awak media menanyakan soal penggunaan dana desa 2017, Mohtar mengelak dan mengaku tidak ada masalah.

"Dalam rangka pengendalian, ada beberapa desa yang APBDesnya belum ditetapkan, dan untuk merealisasi itu harus ditetapkan dulu, dan di pati hampir 350 desa yang sudah cair, sementara sisanya belum mengusulkan karena belum ada penetapan APBDes," jelas Mohtar.

Menurut Mohtar, pengalokasian dana desa saat ini sudah terbuka dan transparan, dan penggunaannya sesuai dengan hasil musyawarah desa, hanya saja saat ini masih ada sekitar 250 desa yang anggarannya belum cair lantaran belum ada usulan dari desa 2017 

Untuk amanah Bupati dalam rangka memfasilitasi desa dari hasil audit tidak ada masalah, dan kita setiap kali selalu update, bagaimana sisi kelemahan, apabila ada masalah, kita panggil tim Desa untuk kesanggupannya, karena progres fisik harus sesuai dengan yang dikerjakan," pungkasnya. (TIM)

Kadispermades Dan Bupati Pati Beda Persepsi Tentang Dana Desa

TH.Indonesia. Sejarah - Sebagai bagian dari Wingate Action, Kompi Sabar Sutopo yang lebih dikenal sebagai Kompi Gagak Lodra, mendapat tugas untuk membuka jalan bagi Batalyon Samsul Islam yang akan masuk dan bergerilya di daerah Pasuruan dan Batalyon Abdul Syarif yang akan masuk dan bergerilya di daerah Probolinggo.
Tugas ini hampir bersamaan dengan Belanda mengadakan Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948.

Putra putra terbaik dan perjuangan yang tak kenal lelah beliau harus gugur dimedan laga. 

Pada saat itu, seksi-seksi yang mengadakan pertahanan sepanjang Wajak-Bululawang diserang secara besar-besaran oleh Belanda.

Kemudian, komando kompi dan pasukan cadangan yang berada di Garotan bersiap-siap untuk gerilya.

Dalam waktu singkat dan cepat, pasukan sudah harus mencapai sasaran dengan menduduki daerah dekat perbatasan (status quo) sebelumpasukan Belanda sempat mengadakan konsolidasi dan beristirahat.

Pada tanggal 20 Desember 1948, Kompi Gagak Lodra segera bergerak untuk bergerilya ke jurusan Desa Bambang, Wajak. Di samping itu, juga menuju Desa Garotan.

Selanjutnya, Seksi Soeseno ditugaskan untuk bertahan di Wajak, di samping itu, mereka juga menuju ke Desa Garotan, selanjutnya, Seksi Soetomo ditugaskan untuk bertahan di Wajak utara untuk menghadang dan menghambat musuh yang mungkin bergerak ke selatan memasuki daerah Garotan dan sekitarnya.

Setelah mengadakan gerak penghambatan, Seksi Soetomo harus segera kembali ke induk pasukan di Bambang.

Tentang kejadian pada tanggal 19 Desember 1948 dapat dikemukakan oleh Sunari HS, salah seorang anggota pasukan Gagak Lodra sebagai berikut. Sekitar pukul 05.00, pasukan mulai melakukan penyerangan ke selatan.

Akibatnya, pertempuran segera terjadi di mana-mana, tembakan berbagai macam senjata disusul ledakan-ledakan dahsyat menggema di pagi itu.

Di daerah Wajak dan Turen, pasukan kami terus bertempur di sepanjang garis pertahanan untuk menghambat gerakan pasukan Belanda, tujuannya supaya pasukan kami di garis belakang dapat memindahkan amunisi dan perbekalan untuk dibawa masuk ke daerah gerilya dan hutan-hutan.

Pasukan Seksi Soeseno, setelah mengalami pertempuran dalam gerak penghambatan yang dilakukan, pada siang harinya, datang induk pasukan dan melaporkan bahwa pasukan Belanda mulai masuk ke daerah Republik.

Karena daerah Wajak sulit dipertahankan maka semua pasukan diperintahkan cepat-cepat masuk ke daerah perbatasan garis
status quo di hutan Wonosari.

Sebelum masuk hutan Wonosari, terlebih dahulu mereka membuka jalan dari Garotan menuju Bambang, setelah dari hutan Wonosari kami berkumpul di Jajang.

Selanjutnya pasukan diperintahkan untuk membuka jalan ke Pasuruan dan Probolinggo, sebagai langkah awal menuju Desa Pandansari. Seluruh kekuatan pasukan bergerak menuju Pandansari, pada sekitar pukul 07.00, pasukan kawal depan, yaitu Seksi Sarim dengan persenjataan yang lengkap dan amunisi cukup, bertemu dengan patroli Belanda yang diperkirakan berkekuatan dua regu bersenjata lengkap berasal dari pos Poncokusumo.

Akibatnya, langsung terjadi kontak senjata dengan seru, dalam pertempuran tersebut, terdengar berondongan senapan mesin diselingi ledakan mortir dan granat.

Pasukan Belanda yang hanya terdiri dari dua regu tersebut menjadi bulan-bulanan pasukan kami, mayat-mayat dari pasukan Belanda bergelimpangan dan darah pun berceceran di sana sini.

Dari pasukan Belanda hanya tersisa dua orang, salah seorang dari mereka, komandan patroli, dalam keadaan terluka tertatih-tatih mencoba melintas jembatan, tanpa menunggu waktu lagi, ia pun menemui ajalnya setelah menerima beberapa butir peluru Thomson, sedangkan seorang serdadu lainnya tidak ditemukan.

Setelah berhasil memenangkan pertempuran di Pandansari, pasukan kami membuka jalan dengan bergerak menuju Gubugklakah, sesampainya di sana, hari telah larut malam, di desa ini, didapatkan informasi bahwa Belanda telah mendirikan pos pengawasan di Dukuh Tosari.

Esok harinya pos tersebut kami serang dan dapat kami hancurkan. Sepucuk pistol dan beberapa pucuk senapan berhasil kami rampas.

Pada tanggal 22 Desember 1948, sekitar pukul 05.00, pihak Belanda mengadakan serangan balasan terhadap pasukan kami dengan mengarahkan kekuatan sekitar dua kompi bersenjata lengkap dibantu oleh pesawat udara dan mobil lapis baja.

Dalam pertempuran yang berjalan cukup lama itu, pasukan kami menderita beberapa korban dan luka berat serta kerugian senapan mesin 7.7 mm, setelah pertempuran, pasukan diperintahkan bergerak ke timur menuju Jabung.

Tetapi karena ada pertahanan yang kuat dari Belanda dalam perjalanan ke Pasuruan, kami kembali dan sampai di Kalijahe di Tumpang, rencana selanjutnya adalah mengadakan konsolidasi dan memasuki Malang.

Selama dua hari, pasukan kami tidak makan. Untuk itu, kami diperintahkan mencari makanan di sekitar desa terdekat, pada pukul 12.00, berturut-turut pasukan masuk ke hutan Kalijahe dengan berjalan kaki di sepanjang lembah-lembah agar terlindung dari intaian pesawat udara.

Ternyata, pasukan Belanda telah menduduki bukit-bukit di atas lembah, dengan tidak disangka-sangka, pasukan kami yang berjalan di lembah diberondong dengan senapan otomatis dan granat, sehingga terjadilah pertempuran yang sangat hebat dan berat sebelah.

Pada saat pertempuran, hujan turun disertai kabut sehingga posisi pasukan kami makin sulit karena lawan tidak nampak, sedangkan pihak Belanda makin gencar memuntahkan tembakan kepada kami.

Korban mengerikan bergelimpangan di berbagai tempat. Banyak yang gugur (sekitar 40 pasukan), di antaranya dua kadet calon perwira, yaitu Kadet Soebandi dan Kadet Soemarto.

Di samping itu, terdapat banyak pasukan yang luka-luka, sebagian pasukan meloloskan diri lewat sungai menuju perkampungan penduduk, kekuatan masih sekitar 75-100 orang, kemudian sebagian ditugaskan ke Probolinggo dan sebagian yang lain ke detasemen Pasuruan.

Para prajurit yang gugur oleh penduduk dimakamkan di lereng-lereng Gunung Kalijahe, sedangkan yang luka-luka sebagian dirawat penduduk dan sebagian yang lain ditawan Belanda lalu dibawa ke rumah sakit di Malang.

Adapun yang masih hidup dan luka ringan saling mencari teman-temannya agar berkumpul kembali.

Pertempuran besar di Kalijahe yang meminta banyak korban pada pasukan kami itu, juga membawa banyak hikmah, sebab pasukan Abdul Syarif dan pasukan Samsul Islam dari Jajang berhasil melewati Tosari.

Kemudian masing-masing menuju Probolinggo dan Pasuruan, keberhasilan tersebut karena pasukan Belanda terfokus di Kalijahe menghadapi pasukan Sabar Sutopo.

Ini merupakan keberhasilan dari kepentingan strategis masuknya Kompi Gagak Lodra memandu berbagai pasukan yang akan melakukan Wingate Action menuju ke arah timur.

Kompi Gagak Lodra yang boleh dikatakan hancur dalam pertempuran di Kalijahe ternyata kemudian dapat dibangun kembali, bahkan dengan kekuatan yang berlipat ganda.

Setelah pertempuran di Kalijahe, pasukan yang tersisa berkumpul kembali di Garotan, berkat konsolidasi yang dilakukan secara terus menerus selama tiga bulan, ditambah lagi dengan kedatangan pasukan Letnan Soemodiharjo (yang terkenal sebagai pasukan penangkis serangan udara), Kompi Sabar Sutopo kembali dapat dibangun.

Pasukan Letnan Soemodiharjo membawa banyak senjata berat yang terdiri dari senapan mesin 12.7, 13.2, mortir 8 dan beberapa pucuk senjata ringan.

Dengan kekuatan utuh tersebut, Kompi Gagak Lodra mampu mempertahankan daerah Garotan dan sekitarnya (kecamatan Wajak), bahkan berulang-ulang mereka melakukan serangan ke pos-pos Belanda di Wajak, Codo, dan Turen.

Beberapa kali pasukan Belanda mencoba menyusup ke daerah basis gerilya tetapi kami gagalkan karena kerjasama antara tentara dan rakyat yang terjalin erat, sehingga gerak langkah Belanda selalu diawasi terus dan dilaporkan ke markas gerilya.



Nb :

Dan tahun lalu Tentara Nasional Indonesia (TNI) melakukan pemindahan makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kali Jahe yang ada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu tgl (16/07/2017).

TMP Kali Jahe merupakan lokasi pemakaman sekitar 50 pejuang yang gugur dalam serangan saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Proses ‘relokasi’ ini diawali dengan upacara pemindahan makam.

Bertindak selaku Inspektur Upacara yaitu Kepala Pembinaan Mental Kodam V/Brawijaya, Kolonel Drs. H. Moch. Rifa’i, sedangkan yang bertindak sebagai komandan upacara adalah Kapten Arh Sutrisno.

Upacara pemindahan makam diikuti Satu SSK Yonif 502, Satu SST Kodim 0818, Satu SST Banser, Satu SST prangkat Desa dan 100 orang masyasrakat.

“Kita bersama-sama mengatarkan jenazah pahlawan tak dikenal ini ke tempat peristirahatannya yang terakhir,” kata Kabintaldam V Brawijaya Kolonel Moch. Rifa’i dalam sambuatanya.

Menurutnya, TNI merasa kehilangan atas gugurnya putra-putra terbaik bangsa ini. “Semoga arwah almarhum dapat di terima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. 

Bagi keluarga yang ditinggalkan dan kita yang hadir di Taman Makam Pahlawan Kali Jahe ini semoga di berikan kekuatan imam, keselamatan dan kesehatan untuk dapat melanjutkan perjuangan almarhum demi bangsa dan negara,” tuturnya.

Disampaikan Kolonel Rifa’i, upacara proses pemindahan makam memiliki arti penting, yaitu sebagai penghormatan kepada para pahlawan yang telah mendarmabhaktikan jiwa raganya untuk nusa dan bangsa.

“Ini juga sebagai bukti kebesaran bangsa Indonesia karena bangsa yang besar adalah bangsa menghargai jasa para pahlawannya, mendoakan arwah para pahlawan dan merefleksikan apa yang telah kita berikan untuk mengisi kemerdekaan ini. 

Moment ini mengingatkan kepada kita bahwa kita harus bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat Bangsa dan Negara,” jelasnya.

TMP Kali Jahe lokasinya berada tidak jauh dari Wisata Coban Jahe.

Menurut sejarah, TMP Kali Jahe berdiri setelah terjadi pertempuran berdarah antara sekelompok pejuang kemerdekaan RI dengan tentara Belanda di era agresi militer Belanda II tahun 1948.

Saat itu, sekitar 40 orang pejuang tengah melakukan perjalanan dari Wajak menuju Nongkojajar, mendekati siang hari, para pejuang tersebut beristirahat di sekitar jurang di Dusun Begawan Desa Pandansari Lor Kecamatan Jabung.

Posisinya yang tersembunyi di cekungan dianggap menjadi tempat strategis untuk melepas lelah sembari menunggu kiriman logistik, sayangnya, belum sempat bantuan tiba, pasukan Belanda yang bermarkas di Taji tiba-tiba melakukan penyerangan.

Belakangan, serangan tersebut dilakukan setelah Belanda mendapatkan informasi dari warga sekitar yang mengatakan terdapat sekelompok pejuang yang akan melintas.

Berdasarkan saksi mata, serangan yang tak terduga tersebut berlangsung selama 5 jam, mulai dari pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB.

“Belanda berada pada posisi strategis untuk menyerang, mereka berada di atas,sementara pejuang terjebak di bawah sehingga mudah ditembaki. 

Apalagi tempatnya tersembunyi dan tidak ada jalan untuk melarikan diri,” cerita Ahmadul Basori, Ketua Ikatan Pemuda Pecinta Alam Begawan Abiyasa (IPPASA).
Basori mengatakan, sejak kejadian tersebut, kawasan itu kemudian dikenal nama Kali Jahe.

Disebut Kali kareba lokasinya ada di sekitar sungai, sedangkan Jahe berasal dari kata pejahe, yang artinya ‘matinya’ atau ‘meninggalnya’.

“Jadi Jahe itu bukan tanaman jahe,tapi pejahe yang berarti meninggal,” terang dia.
Basori menambahkan, pasca kejadian, aliran Kali Jahe warnanya berubah menjadi merah karena bercampur dengan darah pejuang.

Ada warga lokal bernama mbah Dasiah yang melakukan evakuasi pejuang. Kepada Basori, mbah Dasiah menceritakan proses evakuasi baru dilakukan seminggu setelah pertempuran berlangsung.

Tidak ada yang berani melakukan evakuasi setelah kejadian, warga baru berani mendatangi lokasi penyerangan seminggu setelah kejadian.

Yang membuat trenyuh adalah, di saku mereka ditemukan bahan-bahan makanan untuk survival, ada babal (nangka muda), jagung mentah dan pisang muda, ini menegaskan bahwa mereka memang benar-benar pejuang yang sedang survive,” urai Basori.

Ia menambahkan, peristiwa tersebut benar-benar membekas di ingatan, sehingga mbah Dasiah kemudian membuat makam untuk para pejuang yang telah gugur di peristiwa tersebut. “Kali Jahe menjadi saksi bisu perang kemerdekaan,” ucapnya.

Seiring perjalanan waktu,makam tersebut kemudian diperluas hingga menjadi Taman Makam Pahlawan Kali Jahe.

Setiap Hari Pahlawan dan malam refleksi kemerdekaan RI, kami berziarah ke makam para pejuang, ada juga beberapa komunitas yang sengaja datang untuk menggelar upacara penghormatan,” ujarnya. ($.tikno)

40 Pejuang Kompi Gagak Lodra Gugur Sebagai Kusuma Bangsa

TH.Indonesia. Pati - Tingkatkan kerukunan di bulan suci ramadhan dengan tarawih dan silaturahmi bersama (TARHIMA) dengan tema "ALLAH” yang diselenggarakan oleh Dinas/Instansi/ Lembaga Se- Kabupaten Pati thn 2018 yang dihadiri lebih kurang 200 jamaah Tarhima di aula STAI Pati desa Dadirejo kecamatan Margorejo kab Pati, Rabu tgl (30/05/18).

Jaga persatuan dan kesatuan Bangsa demi ukhUkhu Islamiyah di bulan ramadhan  

Sholat tarawih telah dilaksanakan dan sedang berlangsung dengan khidmat tepat pada Selasa malam pukul 19.00 WIB hingga selesai, Kakemenag Kabupaten Pati H. Imron, S.Ag dalam tauziahnya menyampaikan tarawih dan silaturahmi, kita semua disini mendapatkan berkah dan ridho dari Allah SWT.

Semua yang hadir dalam Tarhima malam ini menjadi umat Muhammad yang betul -betul taat dan mendapatkan syafaatnya dihari akhir nanti.

Menambahkan dalam puasa kita sudah masuk hari yang ke 13 dan diharapkan mendapatkan predikat orang yang taqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan ketaqwaan yang kita peroleh nantinya kita menjadi orang-orang yang taat.

Lebih lanjut dalam melaksanakan puasa diawali dengan Ya Ayuhal Ladina amanu, yang mana merupakan panggilan rasa keimanan kepada Allah SWT.

Untuk menguatkan pada diri kita agar kita bisa menjalanakan puasa dengan baik adalah rasa ikhlas, sehingga dalam keadaan apapun tidak akan mempengaruhi pelaksanaan puasa kita.

Semoga apa yang kita lakukan dapat menambah pahala kita dalam menjalankan ibadah ramadhan, bulan puasa adalah bulan yang bertebaran pahala dan kita perbanyak kegiatan sosial berinfak dan sedekah,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu komandan Kodim 0718 Pati Letkol Arm Arief Darmawan, S.Sos menghimbau kepada masyarakat agar senantiasa menjaga keamanan diwilayah masing - masing dan tingkatkan kerjasama yang baik demi terjaganya persatuan dan kesatuan baik sesama tetangga maupun instansi-instansi terkait agar tercipta kondisi yang harmonis," ungkapnya.

Sementara itu sambutan pembina yayasan Drs. Dahwan Hadi, MSi  mengungkapkan, bahwa kegiatan tarling yang dilaksanakan di Kabupaten Pati untuk menyerap aspirasi dari masyarakat, dan sebagai sarana silaturahmi dengan warga.

“Alhamdulillah, kita bisa dipertemukan dan berkumpul bersama dengan masyarakat di aula  STAIP Pati ini dalam keadaan sehat wal'afiat dan tadi kita bisa melaksanakan sholat isya dan tarawih bersama-sama,” terangnya. ($.tikno)

Dandim dan Bupati Pati Menghadiri TARHIMA di Aula STAIP Pati

TH.Indonesia. Pati - Menjelang tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila seharusnya disukuri seluruh komponen anak bangsa, sebab, Pancasila selama ini bukanlah hanya sekadar slogan maupun jargon kelima silanya melainkan benar-benar sebagai lambang dan simbol negara yang terbukti mampu menjaga keutuhan NKRI, Rabu tgl (30/05/18). 

Mengabdi kepada Nusa dan Bangsa bawa laksana. 

Karena itu, jika ada di antara siapa saja yang berdiam dan hidup di bumi Republik ini, ternyata ingkar terhadap lambang negara tersebut itu sama saja ingkar atas karunia-Nya.

Perjalanan panjang sejarah anak bangsa ini seharusnya, selalu dibingkai bersama melalui seluruh komponen anak bangsa. 

Dengan demikian, jangan ada di antara mereka yang mencoba berkhianat dan ingkar atas apa yang sudah digariskan oleh-Nya, Sejarah telah memberi dinamika perbedaan dalam kebhinekaan.

Akan tetapi dengan Pancasila, siapa saja anak bangsa yang mau jujur seharusnya benar-benar merasakan, betapa perbedaan itu suatu keindahan dalam berbangsa dan bernegara.

Akan tetapi, pada era egosentris tiap kelompok perbedaan menganggapnya sebagai hal yang harus digali dan dijadikan jurang menganga lebar. 

Apa pun kelima sila dalam Pancasila tetap mampu menjembatani menganga lebarnya jurang pemisah itu. Sebab, kebebasan tetaplah sesuatu yang hakiki pada setiap diri individu seluruh komponen anak bangsa ini.

Untuk merekatkan hubungan tali persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, sekaligus memahami secara sungguh sungguh nilai nilai luhur dalam tubuh Pancasila.

Pramuka penegak yang berasal dari pangkalan MA Mazro'atul Ulum Kec. Wedarajiksa dan pangkalan SMK Tunas Harapan Pati ikut serta membantu Gusdurian Pati dalam berbhakti sosial, kegiatan yang dilakukan adalah membungkus 500 plastik gula.

Andik Aristiawan yang didampingi oleh Ahmad Khoirul Anam, selaku pembina Pramuka menegaskan, bahwa kegiatan ini dilakukan supaya para peserta pramuka mampu memahami dan sekaligus, mengamalkan nilai nilai yang terkandung di dalam Pancasila dalam kehidupan sehari hari.

Dan berikut ini, nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila yang harus dipahami oleh seluruh komponen anak bangsa.

*sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang maha esa. Setiap komponen anak bangsa harus berketuhanan sesuai agama dan kepercayaan yang di yakininya, dan yakin bahwa setiap keberagaman dan perbedaannya adalah ciptaan Tuhan yang harus diterima dan di jaga.

*sila kedua pun mempertegasnya dengan adil dan beradab. Jika demikian, masihkah ada yang kurang dan hendak menambahkan lagi tapi dalam bentuk apa?.

*sila ketiga, menjamin bahwa setiap warga negara baik suku, agama, maupun ras apa saja tetap harus menyatu dalam persatuan bangsa secara utuh dan penuh totalitas. 

Sistem dan tata cara dalam berdemokratisasi, setiap komponen anak bangsa pun dijamin.

*sila keempat, lalu mau menyoal demokratisasi yang bagaimana lagi?
Keterwakilan dalam permusyawaratan tetaplah merupakan sesuatu cerminan bahwa komponen anak bangsa di republik ini benar-benar sebagai wujud bangsa yang berbudaya dan beradab.

*sila kelima, tentu kita tidak bisa mengeneralisir bahwa pemahaman tentang keadilan itu adalah harus sama rata dan sama rasa. Itu adalah pemikiran dan paham komunis yang sudah dihapus dari bumi republik ini.

Akhirnya penyadaran untuk membingkai kembali Pancasila, tentu harus secara totalitas oleh seluruh komponen anak bangsa.

Tidak bisa jika kita masih berkutat pada pemikiran dan pemahaman, menuntut republik ini harus yang berkeadalan, tanpa bersedia melakukannya secara totaliter (hukum positif).

Sebab, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum positif di republik tercinta ini.

Menanamkan rasa Kebhinnekaan dan ideologis Pancasila harus sejak dini, baik di lingkup sekolah, lingkup pramuka, atau organsasi organisasi yang lainnya, karena keutuhan bangsa ini ada di tangan para generasi bangsa saat ini dan berikutnya. (Kusno/Andik)

Memaknai Kembali Momentum Peringatan Hari Lahirnya Pancasila

TH.Indonesia. Pati - Sisi lain sosok Riski Yusiska atau lebih di kenal dengan nama Kiki Asiska adalah seorang gadis yang cantik, lincah, cuek dan agak tomboi, Kiki mulai menekuni dunia tarik suara sejak SD kelas 5 untuk lomba nyanyi SD tahun 2003, lomba nyanyi SMP tahun 2006 dan lomba nyanyi SMA tahun 2008 dan semua lomba nyanyi itu menyabet juara 1 tingkat kabupaten Situbondo Jawa Timur, Selasa tgl (29/05/18).

Kiki Asiska dara manis dengan album perdananya "yang penting asyik". 

Dengan berbagai prestasi inilah alumni dari SMA Negeri 2 Situbondo tahun 2010 yang pernah kuliah cuma belum sampai selesai karena kesibukannya ikut ajang pencarian bakat di Indosiar tahun 2012 "Galaxy Superstar" dan mendapatkan juara 2 jadi dari sebelas anak dari berbagai propinsi di kirim ke korea selama delapan bulan untuk menjalankan training dance dan vocal dan Riski Yusiska atau lebih di kenal dengan nama Kiki Asiska merupakan salah satu perwakilan dari Jawa Timur mencoba peruntungannya di dunia tarik suara sekarang ini.

Karena waktu itu masih semester satu dan dari kampus hanya di beri waktu dua bulan saja maka kuliahnya putus di tengah jalan, terus setelah itu sama managemen yang kerja sama dengan managemen artis korea Kiki Asiska di kontrak selama tiga tahun dan sudah mengeluarkan album single pertama yang berjudul "Yang Penting Asyik" ciptaan Dewi Sandra.

Setelah kontrak dari managemen artis korea selesai Kiki Asiska di tarik sama MNC group untuk masuk di managemennya yaitu SMN (Star Media Nusantara) dan untuk rekaman single album yang pertama itu bersama managemen YS media yang berkantor di Berita satu Plaza Jakarta Selatan," kata Riski Yusiska atau lebih di kenal dengan nama Kiki Asiska yang selain nyanyi juga ngehost di acara auto gadget di MNC TV dan juga pandai design baju dan masak ini.

Putri anak kedua dari tiga bersaudara pasangan suami istri Bapak Asis Akbar dan Ibu Sri Yustini yang punya harapan menjadi orang sukses yang sebentar lagi mau launching single album baru yang kedua, semoga di single yang baru ini bisa lebih hoki dapat di terima di masyarakat kalangan atas maupun bawah bisa suka genre musik reggae dangdut, jadi semuanya akan menjadi berkah nantinya.

Dalam klausul untuk kontrak di Star Media Nusantara MNC group ini, Kiki Asiska di kontrak selama enam tahun untuk mengisi semua acara di MNC group akan tetapi tampilnya gantian karena artis Star Media Nusantara banyak sekali jadi bergiliran untuk ngisi acaranya.

Dan sekarang Kiki Asiska punya group music sendiri di Jawa Timur dengan nama OM Akbar Music punya orang tuanya sendiri dan OM Akbar Music ini telah berdiri sejak tahun 1991," terang dara cantik kelahiran Situbondo 5 Juli 1991 yang suka makan makanan favorit seafood, makan pedas, pete, menikmati indahnya alam pegunungan sambil melihat sunrise di bibir pantai adalah tempat romantis anugerah terindah dari Tuhan, punyai fans Kiki Asiska Lovers dan sekarang bertempat tinggal di daerah Kemang Jakarta Selatan.

Sisi lainnya seorang Kiki Asiska yang berjuang dari kota Situbondo ke Jakarta demi karier yang saat ini baru dirintis, alhamdulillah masyarakat pecinta musik dangdut Indonesia dan para fansnya atau penggemarnya bisa mensupport lebih dimanapun berada dalam mendukung karirnya selama ini, baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri," ujar dara cantik ini. (Eko)

Sisi Romantis dan Tempat Terindah Seorang Kiki Asiska

TH.Indonesia. Pati - Setelah menjalani puasa dua mingguan hampir tidak terasa sudah mendekati masa menjelang hari Lailatul Qadar, suatu hari masa pahala dilipatkan menjadi seribu bulan, dimana telah diadakan tarwih dan doa bersama di aula SMA N 3 Pati, Senin tgl (28/05/18).

Tarwih dan Do'a Bersama Jalin Ukhuwah Islamiyah di SMAN 03 Pati. 

Pelaksanakan tarwih dan silaturahmi bersama atau (TARHIMA) dengan tema "Dengan Tarhima kita Jalin Ukuwah Islamiyah Diantara Kita" yang diselenggarakan oleh Dinas dan Instansi maupun lembaga Se- Kabupaten Pati thn 2018, Imam Sholat Tarawih yaitu H. Nur Faqih, S.Ag (Guru MA As Salamah Pati) dalam kegiatan ini diikuti sekitar 200 jamaah Tarhima.

Dalam acara Tarhima malam ini dihadiri dari para jamaah wakil Bupati Pati H. Saiful Arifin, Muspika Kec. Pati, SKPD, Kepala Disperindag, Ketua Dispertanak perwakilan anggota Yon 410 Alugoro, Kodim 0718 Pati, Koramil Pati dan Polsek Pati juga perwakilan kepala sekolah dan para guru serta siswa- siswi SMA Kab. Pati.

Beberapa Dinas dan Instasi maupun lembaga yang sebagai penyelenggara Tarhima sebagai berikut yaitu Pengadilan Negeri Kab. Pati (Koordinator Penyelenggara). 

inas perdagangan dan Peridustrian Kab. Pati, Dishub Kab. Pati, Dinas Perumahan dan Pemukiman Kab. Pati, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Pati. 

Kantor imigrasi Kab. Pati, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bencana Daerah Pati, BAPAS Kabupaten Pati SUB DOLOG Kabupaten Pati, PSAA Tunas Bangsa Pati, SMA Negeni 3 Pati, Jasa Raharja Cabang Pati. 

Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati, AKPER Pragola Pati, Akbid Duta Dharma Pati, Kantor Kecamatan Margorejo SMPN 2 Margorejo, PT Dwi Kelinci Pati.

Sambutan Kepala SMA N 3 Pati yaitu terimakasih kepada panitia sehingga terlaksananya kegiatan ini, atas kepercayaan kepada SMA 3 Pati sehingga kegiatan Tarhima dilaksanakan disini, mohon doanya semoga SMA N 3 Pati semakin maju.

Tushiyah oleh HM Afandi, M.Pd. PPAI Kankemennag Kab. Pati menyampaikan bahwa semoga kedatangan kita semua disini mendapatkan berkah dan Ridho Allah SWT, ciri - ciri orang yang akan masuk surga yaitu tidak pernah putus dari sholat, zakat dan dekat dengan Nabi Muhammad SAW caranya dengan dekat dengan para alim ulama.

Disinilah ujian setiap manusia dalam menjalankan ibadah puasa untuk selalu sabar, sesuai amal dan ibadahnya, menjadi seorang yang lebih baik karena kesempatan dibulan yang penuh berkah dan ampunan, dimana Islam adalah agama yang rahmatan Lil allamin".($.tikno)

Tarwih dan Do'a Bersama Jalin Ukhuwah Islamiyah di SMAN 03 Pati

TH.Indonesia. Tanjungpinang, Kepulauan Riau-Untuk meningkatkan keimanan bagi kalangan wartawan lintas organisasi, Kepolisian Resort setempat mengelar buka puasa bersama di Bintan Plaza Hotel Tanjungpinang, Senin tgl (28/05/18) malam.

PolPol Tanjungpinang Bukber Bersama Insan PERS dan Bagi Santunan Ke Panti Asuhan. 

Salah satu organisasi wartawan yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ikatan Wartawan Online (IWO), selain dua organisasi yang sudah ada dikota Gurindam tersebut, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Ketua IWO Tanjungpinang, Iskandar Syah mengungkapkan moment buka bersama tersebut tentu saja bukan hanya sekedar sebagai kegiatan makan-makan bersama.

Momen tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk kegiatan ibadah bersama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan yang pada akhirnya berujung pada pahala yang diperoleh di bulan suci ramadhan.

"Sehingga diharapkan kegiatan ini benar-benar mampu memberikan manfaat yang jauh lebih banyak dari acara buka bersama itu sendiri yang berupa membatalkan puasa kita hari ini," ungkap Iskandar di sela-sela acara itu.

Dengan kegiatan bersama insan pers dan lintas organisasi wartawan itu diharapkan para jurnalis bersama Polres Tanjungpinang dapat dijadikan agenda tahunan, untuk mempererat talisiturahmi antar sesama jurnalis.

"Semoga kegiatan seperti ini yang merupakan tradisi bagi orang berpuasa berkelanjutan demi mempererat tali silaturahmi," tutur pria tampan itu.

Di tempat yang sama Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi mengucapkan terimakasih atas kesempatan para jurnalis untuk berkumpul bersama dan buka puasa bersama dengan insan kepolisian di wilayah hukum Polres Tanjungpinang.

"Rekan-rekan membantu dalam kerja kami di Polres, karena aktifitas masyarakat dapat di informasikan melalu media, dari situ kami dapat mengetahui apa saja yang terjadi di Tanjungpinang," ujar dia.

Dia juga menyampaikan rasa terimakasih atas terjalinnya kerjasama dan koordinasi antara para anggota Polres Tanjungpinang dengan para jurnalis selama ini, pasalnya media merupakan bagian dari mata dan telinga para petugas Kepolisian.

"Secara tidak langsung media menjadi mata dan telinga pihak kepolisian dalam informasi yang disajikan selama ini," papar Ucok.

Buka puasa bersama ini, selain dihadiri para jurnalis yang berada di kota itu, juga hadir  beberapa anak-anak panti asuhan, dengan diawali siraman rohani oleh Ustad M Ikhwan, dengan tema menjadi jurnalis yang baik dan tidak hoax.

Dipenghujung acara, pihak kepolisian dan wartawan memberikan santunan kepada anak-anak panti asuhan di bawah koordinasi Polres Tanjungpinang. ($.davit)

Polres Tanjungpinang Bukber Bersama Insan PERS dan Bagi Santunan Ke Panti Asuhan

TH.Indonesia. PATI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati di tahun 2018 menargetkan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sebesar Rp 6,7 milyar dalam 1 tahun, PAD itu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 6 milyar.

Sekretaris DKP Kabupaten Pati ~ Farika Budiastuti. 

"Tahun ini (2018, red) PAD kita ada kenaikan, dari Rp 6 milyar, sekarang mencapai Rp 6,7 milyar," ungkap Sekretaris DKP Kabupaten Pati Farika Budiastuti kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Menurutnya, PAD yang di dapat dari DKP itu di patok dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terdapat di 8 tempat diwilayah Pati diantaranya TPI di Juwana ada 2 tempat, TPI banyutowo, TPI Puncel, TPI Margomulyo, TPI Alasdowo, TPI sambiroto, dan TPI di pecangaan.

"Dari 8 TPI, cuma di Juwana yang kontribusinya lebih besar, untuk yang lain masih kecil," katanya.

Pungutan retibusi untuk PAD, Lanjut Dia, diambil dari hasil pelelangan ikan di setiap TPI. DKP hanya mengambil retribusi sebesar 2,8 persen dikali harga jual ikan dari para nelayan.

"Kita hanya mengambil 2,8 persen untuk PAD dari hasil pelelangan ikan atau biasa disebut raman," ungkapnya.

Disinggung berapa jumlah PAD yang didapat setiap TPI, Farika sendiri enggan memberikan tanggapan, karena data itu ada di Dinas Perhubungan, apabila ingin disampaikan maka harus minta ijin di dinas tersebut," untuk datanya di Dishub, kalau minta ya ijin dulu, dan kami tidak berani menyampaikan," cetusnya.

Meski begitu, untuk target PAD ditahun 2017 sebesar Rp 6 milyar, DKP bisa mencapai target yang ditetapkan sebesar 100 persen," untuk 2017 kita bisa melebihi target 100 persen, dari PAD yang ditetapkan oleh Pemkab Pati," tambahnya. ($.tim)

Pemkab Pati Tetapkan PAD Sebesar 6,7 Miliar di DKP

TH.Indonesia. Pati - Dibulan suci ramadhan yang penuh berkah ini, menjadi sebuah momentum kebersamaank  berbagi kasih dengan aneka takjil yang dimulai pukul 16.00 sampai selesai, di Jl. Pemuda tepatnya di Lampu merah Perempatan Jago Pati telah berlangsung pembagian Takjil Puasa Ramadhan 1439 H 2018, sepasang mata, untuk seribu pasang mata, sepasang tangan, untuk seribu pasang tangan "Dalam rangka berbagi bahagia di bulan Ramadhan", Gusdurian Pati, Klenteng Hok Tik Bio Pati, Polres Pati, Kodim 0718  Pati, GP Ansor, IKKP mengadakan pembagian takjil dan pasar murah, yang dimotori oleh Edi Siswanto, Minggu tgl (27/05/18).

Berbagi kasih dengan 5000 takjil di bulan yang penuh berkah ini. 

Dalam kegiatan bagi takjil bersama dihadiri oleh pejabat TNI dan Polri maupun elemen masyarakat Pati yaitu Kapolres Pati AKBP Uri Nartanti Istiwidayati SIK, MSi, Waka Polres Pati Kompol Nyamin, SH, Dandim 0718 Pati Letkol Arm Arif Darmawan, S.Sos, Ketua Yayasan Klenteng Hok Tio Bio Edy Siswanto.

Danramil Pati kota Kapten Kaveleri Suyatno, Kapolsek Pati IPTU Pujiati, S.Sos, Pendeta GKMI Jl. Thamrin Pati, Pdt. Michael Salem, Ketua Ponpes Gembong Kyai Hepy, Pengurus yayasan Klenteng Hok Tio Bio, ketua cabang Bhayangkari Polres Pati beserta pengurus Bhayangkari dan anggotanya.

Juga dari FKPPI Kodim Pati, Persit Kartika Candra Kirana Cabang XXXIX Kodim 0718 Pati, Persit Kartika Candra Kirana 4 Kipan C, Perwakilan Rapi Kab Pati, Senkom Kab. Pati, Pramuka Saka Wira Kodim 0718 Pati dan Media Pers.

Pemberian Takjil kepada warga masyarakat Pati sebanyak lebih kurang 5000 Bungkus.
Adapun jumlah takjil yang dibagikan al satu bungkusnya terdiri dari kolak dan arem arem jumlah total kurang lebih 5000 Bungkus.

Dalam kesempatan sore hari disela kegiatan pembagian takjil sekaligus juga dimeriahkan Barongsai dari Hok Tik Bio Pati.

Setelah kegiatan pembagian takjil dilanjutkan buka bersama di Klenteng Hok Tik Bio kompleks Pecinan Pati.

Harapan dari pada komandan Kodim dalam kegiatan bagi takjil bersama ini, agar lokasi dan sasaran yang akan dilaksanakan kedepan mencari tempat yang bagus dan tidak menimbulkan lakalin dan kemacetan seperti yang tadi telah bersama - sama di lakukan.

Saya juga berterima kasih atas perhatianya kepada Gusdurian, Ibu Kapolres Pati dan anggotanya, FKPPI, Banser, Rapi dan Sakawira Kartika, serta komunitas trail Pati pada saat sore hari, berjalan kegiatan bagi takjil yang diprakarsai oleh Gusdurian mendapat dukungan penuh masyarakat Pati.

Lebih lagi banyak manfaatnya terutama para musafir yang akan berbuka puasa tidak sempat mampir ke diwarung- warung bisa berhenti sejenak untuk buka puasa berupa kolak dan jajanan arem - arem untuk membatalkan puasa selama satu hari.

Kedepan agar acara ini bisa berjalan lebih baik lagi, kita buat memanjang sepanjang jalan Panglima Sudirman Pati agar tidak terjadi macet, yang mengakibatkan macet panjang hingga sampai depan SMPN 01 Pati. ($.tikno)

Kapolres dan Dandim 0718 Pati Berbagi Takjil Bersama Gusdurian Wujud Persatuan di Bulan Suci Ramadhan 1439 H

TH.Indonesia. Tapteng  - Ikatan Wartawan Online (IWO) Sibolga-Tapanuli Tengah melakukan langkah nyata melindungi Bunga Bangkai (Amorphollus Titanum) yang merupakah bunga langka dunia di lingkungan mekarnya pada Minggu tgl (27/05/18).

IWO Tapteng Ikut serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. 

Aksi yang dilakukan dengan memasang spanduk himbauan di Jalan Poriaha-Rampa di Desa Napa, Kecamatan Tapian Nauli, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara berukuran 2x1 meter, yang bertuliskan, “Mohon jangan memotong/menebang, memindahkan atau merusaknya dengan cara apapun. Mari lindungi sumber daya hutan”.

Himbauan yang dipasang agar dilihat masyarakat ini atas koordinasi dan kerjasama dengan Komunitas Peduli Hutan Sumatera Utara (KPHSU).

Sepanjang bulan Mei tahun ini ditemukan setidaknya delapan bunga Bangkai, yang menurut peneliti adalah bunga asli yang hanya tumbuh di Sumatra dan Jawa, mekar di salah satu bukit di Desa Napa ini.

Dalam kasus sebelumnya, bunga-bunga yang tumbuh di atas lahan milik warga, bernama Aritonang, kerap ditebang dan dipindahkan dari habitat hidupnya ke pinggir jalan dengan alasan agar dapat diketahui khalayak.

Kemungkinan hal tersebut dilakukan karena banyak yang tidak mengetahui bahwa aksi tersebut justru merusak bunga Bangkai.

Tentu harapannya, dengan dipasangnya spanduk ini, pemilik tanah, Pak Aritonang, dan warga yang melintas tergugah kesadarannya agar bersikap arif dan baik terhadap bunga unik dan langka ini,” harap Ketua IWO Sibolga-Tapteng Damai Mendrofa.

Selain itu menurut Damai, keputusan pemasangan spanduk juga dilakukan agar warga yang melintas mengetahui bahwa di perbukitan tersebut tumbuh subur bunga Bangkai tanpa perlu dipindahkan ke tepi jalan, serta khalayak mau ikut serta melestarikannya.

Mei Leandha, Sekretaris Jenderal KPHSU menyatakan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSA) Sumut  mengkonfirmasi bahwa pihaknya juga telah menghimbau masyarakat setempat untuk ikut melestarikan bunga Bangkai.

Namun menurut Mei, sosialisasi dan himbauan tanpa pengawasan dan sanksi bagi yang melanggar akan sia-sia.

BKSDA kata Mei layaknya bisa memastikan, jika di kawasan itu adalah habitat bunga Bangkai, maka pantas dijadikan kawasan ekowisata yang akan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan penetapan habitat bunga Bangkai sebagai kawasan ekowisata, diyakini bahwa  tujuan pelestarian lingkungan dan ekosistemnya dapat tercapai. ($.0N0)

IWO Sibolga Tapteng Ikut Peran Jaga Kawasan Bunga Bangkai

TH.Indonesia. Pati - Sungguh tragis apa yang dialami oleh Nur Faqih, seorang Kepala Desa, Desa Margoyoso Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, meninggal dunia setelah menjadi korban tabrak lari di jalan Juwana - Tayu dengan penguna sepeda motor yang tidak diketahui identitasnya, Sabtu tgl (26/05/18), tepat pukul 17.30 WIB sesaat menjelang berbuka puasa.

Korban yang tergeletak di pinggir jalan. 

Keterangan saksi saudara Ali Ropi'i bin Sukanto 33 thn alamat desa Margoyoso dukuh mbelah RT 03 RW 02, pada kejadian naas itu korban sekitar pukul 17.30 WIB mengatakan bahwa berawal dari sepeda motor Honda Vario K-5875-TU  yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi.

Korban pada saat itu ingin pulang  untuk berbuka puasa kurang  waspada dalam mengendarai sepeda motor, jalanan yang cukup ramai sehingga lalu lintas cukup padat menjelang maghrib, kepala desa Margoyoso yang melaju dari arah selatan mengarah ke utara bermaksud mendahuluhi kendaraan roda empat, karena posisi saat menyalip terlalu kekanan sehingga terjadi kontra atau tabrakan yang cukup keras, sehingga korban terpental di aspal. 

Tabrakan dengan sepeda motor tidak bisa di hindari, karena laju motor yang cukup dekat dan benturan tidak bisa di hindari sepeda motor datang dari arah berlawanan melaju cukup kencang sehingga terjadi tabrakan karena jarak sudah terlalu dekat,” jelasnya.

Selanjutnya anggota Polsek Margoyoso bersama anggota Koramil 06 Margoyoso melaksanakan pengecekan di TKP, dengan kejadian laka lain di jalan Juwana - Tayu yang mengakibatkan korban mengalami luka lecet dibawah mata kanan dan kepala belakang yang cukup parah, korban yang tidak sadarkan diri segera dibawa ke rumah sakit Islam Margoyoso.

Setelah mendapat penanganan medis dari RSI korban dinyatakan meninggal dunia, dan saat ini dibawa kerumah duka oleh pihak keluarganya, untuk dimakamkan secara layak. ($.tikno)

Tragis Seorang Kades Margoyoso Meninggal Dunia, Korban Tabrak Lari

TH.Indonesia. PATI - Tak berlebihan jika kota Pati yang identik dengan kota Pantura atau pantai utara pulau Jawa selalu bernuansakan aroma dangdut is my country, tidak heran hampir disudut sudut desa maupun kampung selalu ramai dengan panggung hiburan musik dangdut, apalagi setelah lebaran hampir tidak ada mandeknya para musisi-musisi dangdut nasional menggoyang kota Pati, Jum'at tgl (25/05/18).

Erika Meysa Yanti artis muda penuh talenta dari kota Pati. 

Satu lagi musisi muda yang penuh bakat dan talenta yaitu Erika Meysa Yanti menjadi bintang remaja di group OM New Aldiva sebagai biduan muda yang cukup punya prestasi, mulai menekuni dunia tarik suara sejak kecil mulai TK sudah hoby di bidang tarik suara tapi mulai nyanyi dari panggung ke panggung sejak kelas 1 SMP.

Alumni dari SMP Negeri 02 Wedarijaksa lulusan tahun 2017 dan sekarang melanjutkan sekolah di SMK Negeri 2 Pati kelas X jurusan multimedia.

Dan pada waktu SMP pernah ikut festival lomba seni siswa nasional tahun 2017 dan mendapatkan juara 3 tingkat kabupaten Pati," kata Erika Meysa Yanti anak pertama dari dua bersaudara pasangan suami istri Bapak Ali Wahyudi dan Ibu Puji Lestari yang sekarang menetap ikut group OM NEW ALDIVA sejak januari tahun 2018.

Menyanyi adalah hobi namun jalan jalan sambil menikmati kuliner merupakan sesuatu momen dalam menikmati indahnya hidup, dara manis yang juga suka makanan favorit seperti nasi tempe pedes yang saat ini cukup menjamur bahkan banyak kedai warung di wilayah Pati utara yang menyediakan menu favorit ini.

Dan untuk harapan kedepannya semoga tambah sukses ke depannya dan bisa mengangkat derajat orang tua, keluarga bahkan orang-orang yang ada di dekatnya terutama bersama OM New Aldiva Bintang Remaja kebanggaan orang Pati saat ini," ujar dara cantik kelahiran Pati 27 Mei 2002 yang sekarang bertempat tinggal di Desa Ngurenrejo RT 05 RW 03 Kecamatan Wedarijaksa Kabupaten Pati.

Tidaklah mudah menjadi seorang penyanyi yang sukses, namun dengan kerja keras, do'a dari orang tua semangat dan terus berlatih akan menuai hasil yang maksimal, seperti idolanya yang juga artis dari Pati yaitu Soimah artis papan atas yang cukup fenomena sekarang ini," ujar dara cantik ini. (Eko)

Erika Meysa Yanti The Rissing Star Diva Dangdut Kota Pati

TH.Indonesia. Sejarah - Sejarah mencatat bahwa MAJAPAHIT adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah berjaya di Nusantara. Dalam waktu kurang dari 20 tahun saja, Mahapatih Gajah Mada berhasil menaklukkan seluruh wilayah Nusantara sampai ke wilayah Asia Tenggara dengan mengerahkan armada “maritim”-nya yg merupakan armada maritim paling terbesar saat itu.

Kerajaan Majapahit ~ Ilustrasi. 

Dan yg menarik disini adalah bahwa seluruh wilayah Nusantara tersebut ternyata berhasil ditaklukkan di bawah panji-panji MAJAPAHIT hanya dengan melakukan dua kali peperangan saja, dan kedua perang ini pun tidaklah berlangsung lama.

Lalu pertanyaannya adalah, strategi apa yang telah dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada hingga mampu menaklukkan seluruh wilayah Nusantara tanpa melakukan peperangan?”

Usut punya usut lewat beberapa literatur ternyata Mahapatih Gajah Mada justru lebih banyak menggunakan strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” daripada menggunakan strategi perang.

Strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” inilah yg rupanya gencar dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada, yg dilakukan dengan cara memberikan “pinjaman emas bersyarat” kepada seluruh daerah taklukkannya yg jumlahnya kurang lebih mencapai 145 kerajaan yg tersebar di seluruh wilayah Nusantara.

Dengan “pinjaman emas bersyarat” tersebut, semua kerajaan yg “mengambilnya” kemudian menjadi bagian dari wilayah administratif Kerajaan Majapahit dan sekaligus menjadi daerah teritori politik yg harus tunduk di bawah kendali Kerajaan MAJAPAHIT.

Nah strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” inilah yang saat ini dicopy paste, ditiru dan diterapkan oleh Negara CHINA lewat Program “One Belt One Road” (OBOR), yakni dengan cara memberikan pinjaman bersyarat “Silk Road Fund”-nya, persis seperti strategi Geo-politik “Perjanjian Emas” yang dilakukan oleh Kerajaan MAJAPAHIT untuk menaklukkan 145 kerajaan di wilayah Nusantara.

CHINA dengan program “One Belt One Road” (OBOR) dan pinjaman bersyarat “Silk Road Fund”-nya berambisi untuk menaklukkan duapertiga dunia, yang dimulai dari china timur berlanjut ke atas menggunakan rute “polar slik road”, kemudian menuju daratan eropa menggunakan rute “land silk road”, lalu menuju daratan afrika hingga ke selat hormuts menggunakan rute “maritim silk road” dan kemudian terakhir melewati rute selat malaka dan kembali lagi ke pantai timur china, dimana total keseluruhannya mencakup duapertiga wilayah dunia.

Jika CHINA berhasil memenuhi ambisinya untuk menaklukkan duapertiga wilayah dunia ini, maka yang tersisa hanyalah wilayah Amerika dan Benua Australia yang sekarang membuat program tandingan bernama “QUAD” guna mengimbangi program “One Belt One Road” (OBOR) yg sedang gencar dijalankan oleh Negara CHINA.

Lewat program “One Belt One Road” (OBOR) yang gencar dilakukan oleh Negara CHINA ataupun program “QUAD” yg juga gencar dilakukan oleh Negara AMERIKA, keduanya baik CHINA ataupun AMERIKA kini telah menjelma menjadi Kolonialisme Era Baru yg saling bersaing dan berlomba-lomba menaklukkan negara-negara lainnya sebanyak-banyaknya.

Dan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, negara dengan garis pantai terpanjang di dunia dan negara yang memiliki banyak laut dalam dan palung terdalam di dunia, berada tepat di tengah-tengah kekuatan dua hegemoni terbesar di dunia yakni CHINA dan AMERIKA, yang memiliki posisi yang sangat strategis untuk diperebutkan oleh keduanya.

Nah kolonialisme era baru yang dilakukan oleh dua hegemoni terbesar di dunia inilah (terutama CHINA) yang jauh-jauh hari telah diingatkan dalam Wasiat Nabi KHIDIR as kepada Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 M dan Syaikh Abdul Rauf Syah Kuala pada tahun 1657 M, yg kemudian wasiat ini diabadikan sebagai sebuah Hikayat yang ditulis dalam Kitab “Mandiyatul Badiyah” yang dikenal oleh masyarakat awam sebagai “Ramalan Syah Kuala”.

Dalam “Ramalan Syah Kuala” poin 6 dan poin 9, Nabi KHIDIR as menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:

Poin 6:
Kerajaan itu (Al-Jawi atau Jumhuriyah Indunesia) akan berdiri sampai kuat, akan tetapi negerinya penuh huru hara dan banyak pertumpahan darah.

Rakyat banyak melakukan kemudharatan (perbuatan tyang salah) dan kehidupan mereka susah, perdagangan mahal, pakaian dan makanan mahal, yang pandai malah tutup mulut, pembesar-pembesar banyak berdusta, dan semua rakyat berpaling muka pada pembesar itu, perampasan terjadi di tiap-tiap persimpangan (wilayah perbatasan) tanpa bersenjata, dan banyak orang pada masa itu sangat suka pada MERAH dan KUNING dengan menanti yang tidak mengakui Allah (atheisme/komunisme) dan bermusuhan dengan agama yang ada di atas muka bumi ini”.

Poin 9:
Bahwa nanti akan datang pada suatu masa, rakyat akan bangkit dengan amarahnya seperti api membara untuk membela negeri, dan bermaksud melepaskan diri dari KUNING dan MERAH dan sebagainya.

Akan tetapi kelakuannya bermacam-macam, dan pada akhirnya yang mengalahkan KUNING dan MERAH itulah yang menang, yakni golongan yang tidak suka pada perbuatan yang salah, serta kokohlah Ajaran Islam. Negeri aman, damai, adil, makmur seperti dahulu kala, yakni akan dimenangkan oleh orang-orang yang beriman”.

Sang Guru berkata bahwa yg dimaksud dengan perlambang MERAH dan KUNING dalam Wasiat Nabi Khidir di atas sesungguhnya adalah Negara CHINA yang memiliki lambang bendera dengan dua warna yakni MERAH dan KUNING.

Bukalah matamu lebar-lebar bagaimana CHINA telah menanamkan cakar kolonialisme Geo-politiknya di negeri ini melalui strategi “pinjaman hutang bersyarat” dengan bunga pengembalian hutang yg besar, dimana ketika negeri ini tidak mampu membayarnya justru akan membuat hutang tersebut akan terus membengkak dari waktu ke waktu.

Dan pada akhirnya CHINA pun dapat mengendalikan segalanya di negeri ini, mulai dari Tenaga Kerja CHINA yang datang berbondong-bondong ke negeri ini, ekspor dan impor dari CHINA, pengerukan sumber daya alam negeri ini secara besar-besaran dan bahkan CHINA pun dapat mengendalikan dan mengintervensi sang pemimpin nomor satu negeri ini di dalam kebijakan-kebijakan strategis, dan anehnya hanya segelintir orang yang menyadari politik hegemoni CHINA ini.

Kembali ke bahasan kita tentang MAJAPAHIT, pertanyaan lanjutannya adalah Lantas seberapa banyak gerangan persediaan emas yg dimiliki oleh MAJAPAHIT hingga mampu memberikan “Pinjaman Emas Bersyarat” kepada 145 Kerajaan di seluruh Nusantara yg menjadi daerah teritori geo-politiknya?”

Pada masa MAJAPAHIT berjaya di Nusantara, emas telah banyak dipergunakan untuk memperindah apapun, dan hal ini tercatat dengan rapi dan mendetail oleh seorang Padri Katolik dari Ordo Fransiskan asal Czech (Ceko) yang bernama Odorico Mattiuzzi ketika ia berkunjung ke ibukota MAJAPAHIT di Pulau Jawa masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (Raja kedua MAJAPAHIT) sekitar tahun 1321-1322 Masehi.

Diperkirakan dialah orang Eropa pertama yang mendaratkan kakinya di Pulau Jawa, Pastor yang terkenal dengan nama Odorico da Pordenone ini cukup rajin menulis dan tak perlu diragukan lagi tentang kemampuan menulisnya.

Sebab, sebelum ia menulis kesaksian tentang Pulau Jawa, ia sudah banyak berkarya, baik secara religi maupun kesusastraan. Hanya saja memang namanya tak begitu dikenal lagi, terutama oleh generasi muda di negeri ini.

Dalam bukunya yang berjudul “I viaggi di Frate Odorico” atau yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul “The Travels of Friar Odoric“, sang pastor menerangkan bahwa ia telah mengunjungi beberapa tempat di Nusantara yaitu Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Banjarmasin di Pulau Kalimantan. Ia dikirim oleh Paus Yohanes XXII untuk menjalankan misi penyebaran agama Katolik di wilyah Asia Tengah dan Asia Timur.

Di Pulau Jawa sebenarnya ia hanya ingin singgah, tapi akhirnya kemudian ia tinggal dalam waktu yg cukup lama, dan saat berkunjung ke ibukota MAJAPAHIT, sang pastor dipersilahkan untuk berkunjung dan bertamu di salah satu istananya dalam bukunya ia menulis:

“….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa,….. Maharaja di pulau ini mempunyai banyak istana yang sangat mengagumkan, karena saking besarnya, anak tangga atau undak-undaknya pun besar, luas, dan tinggi, bahkan, anak-anak tangganya diselang-seling dengan emas dan perak.

Bahkan, jalanan atau trotoar di istana disusun menggunakan satu ubin emas dan satu ubin perak yang berselang seling, demikian juga dengan dinding istananya, berlapis emas, di bagian luarnya banyak ukiran-ukiran kesatria-kesatria dari emas.

Banyak dari kepala patung kesatria tersebut dikelilingi lingkaran-lingkaran emas, seperti orang-orang suci (santo). Sangat menakjubkan, karena seluruh lingkaran-lingkaran tersebut ditaburi batu permata.

Selain itu, langit-langit istana dibuat dari emas murni, singkatnya tempat ini lebih kaya dan lebih mewah dari pada tempat manapun di dunia.

Lalu, selain catatan di atas, pastor Odorico Mattiuzzi juga telah menuliskan keterangan berikut ini:

Maharaja mempunyai bawahan tujuh raja bermahkota, pulaunya merupakan salah satu pulau terbesar di Dunia, dan sangat padat penduduknya, memiliki sejumlah besar cengkeh, lada dan pala serta segala macam rempah-rempah, juga banyak menghasilkan segala jenis bahan pangan, kecuali anggur.

Raja Jawa memiliki istana yang besar dan mewah, yang termegah di antaranya yang pernah saya lihat, dengan anak tangga yang luas dan besar untuk naik ke tingkat atas, masing-masing anak tangga dihiasi dengan emas dan perak.

Tembok di istana dihiasi dengan piring-piring bertempa emas, dimana terdapat gambar para pahlawan yang diukir dengan emas yang masing-masing mahkotanya terbuat dari emas bertahtakan batu-batu mulia.

Atap dari istana ini terbuat dari emas murni, dan pada ruangan bawah tanah lantainya dilapisi emas dan perak, Kaisar Yang Agung atau Kaisar yang bertahta di Cathay, telah beberapa kali berperang melawan Raja Jawa, akan tetapi, selalu berhasil dikalahkan dan diusir kembali.

Sungguh, kerajaan yang disebutkan disini tak lain adalah MAJAPAHIT yang dikunjungi oleh sang pastor dalam kurun waktu tahun 1321-1322 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (Raja kedua MAJAPAHIT).

Disebutkan juga dalam bukunya tersebut bahwa di Pulau Jawa saat itu terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ini jelas menunjukkan tentang kekayaan negeri tersebut, yang jelas sekali bisa menopang kejayaannya, ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta sejarah.

Selain pastor Odorico Mattiuzzi, ternyata ada pula seorang musafir dari daratan China yang menuliskan kesaksiannya.
Sosok itu bernama Ma-Huan, yang telah berkunjung ke MAJAPAHIT di masa akhir pemerintahan Prabu Sri Wikramawardhana (Raja kelima MAJAPAHIT), catatan perjalanannya dimuat dalam sebuah Kronik China yang berjudul “Ying-Yai-Sheng-Lan”.

Ma-Huan sendiri adalah seorang China Muslim yang menulis buku berjudul “Ying-Yai-Sheng-Lan”, sebuah kronik perjalanan ekspedisi Laksamana Cheng-Ho pada abad ke-15 Masehi.

Ia tidak mengikuti seluruh ekspedisi, tetapi ia menulis banyak tempat yang juga tidak ia kunjungi. Catatannya mencakup wilayah Indocina, Nusantara, Teluk Benggala, Persia, Jazirah Arabia, sampai dengan pantai timur Afrika.

Ma-Huan juga sempat melaksanakan ibadah Haji dalam lawatannya ke Mekah, perlu diketahui bahwa perjalanan Laksamana Cheng-Ho di tahun 1405-1433 Masehi seringkali didokumentasikan dalam Kronik China oleh Ma-Huan saat melakukan perjalanan laut khususnya ke wilayah Nusantara dan Teluk Persia.

Kronik Ma-Huan dalam sejarah Nusantara sangat penting dan berharga sebagai sumber informasi mengenai kehidupan masyarakat Pulau Sumatera ataupun Pulau Jawa pada masa lalu.

Dalam sebuah pengembaraannya tahun 1416 Masehi, Ma-Huan mencatat apa yang dia lihat langsung di MAJAPAHIT, khususnya tentang kemakmurannya sebagai berikut.

Tahun ke sebelas Kaisar Yung Lo menerbitkan maklumat kekaisaran kepada kasim Cheng-Ho untuk memimpin kapal angkut harta dan berlayar di laut barat demi membacakan perintah kaisar dan memungut upeti.

Aku turut serta sebagai penerjemah kemanapun ekspedisi ini pergi, tak terhitung jutaan li, berbagai negeri dengan beda iklim, musim, topografi dan penduduk, aku melihat keragaman ini dengan mata sendiri dan menjalaninya sendiri dengan kakiku.

Pengalaman ini membuatku percaya bahwa buku berjudul “A Record of The Islands and Their Barbarians” bukan bikinan, bahkan lebih banyak lagi keanehan dan keajaiban yang bisa disaksikan.

Maka aku menulis penampilan orang-orang asing ini, setiap negerinya, adat istiadat mereka dan membuka wawasan pembaca nantinya seberapa jauh pengaruh Kaisar kita dibandingkan dengan dinasti-dinasti  sebelumnya.”

Lalu di dalam bab yang berjudul “The Country of Chao-Wa (Java)” Ma-Huan menuliskan sebagai berikut :

Negeri ini dulu disebut She-pó, memiliki empat kota besar tanpa tembok kota dan suburban area (kota di masa Dinasti Ming biasanya dikelilngi tembok, dan suburban area adalah rumah penduduk diluar perimeter tembok kota – alias luar kota/pinggiran).

Kapal asing selalu berlabuh pertama kali di kota bernama Tu-pan (Tuban), lanjut ke New Village/Kota Baru (Gresik), Su-lu-ma-i (Surabaya) dan terakhir kota bernama Man-che-po-i (Majapahit) dimana raja tinggal, dari New Village (Gresik) setelah berlayar kurang lebih dua puluh li ke selatan, kapal mencapai Su-lu-ma-i (Surabaya).

Orang lokal menyebutnya Su-erh-pa-ya, di sungai air yang mengalir adalah air tawar. Dari sini kapal besar tidak bisa masuk dan kita harus menggunakan kapal kecil.

Selain itu Ma-Huan juga menyebutkan dalam Kroniknya:

Di MAJAPAHIT udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (China). Panen padi dua kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih.

Disana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, emas, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak.

Burungnya aneh-aneh, ada Burung Nuri sebesar ayam dengan aneka warna merah, hijau, dan sebagainya. Burung Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang, burung kakatua, burung merak, dan lainnya lagi.

Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka, dan sebagainya.

Bunga yang penting adalah Bunga Teratai, penduduk di pantai utara di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara, dan China.

Lalu, Ma-Huan juga memberitakan bahwa ibukota MAJAPAHIT berada di pedalaman pulau Jawa. Kemudian istana MAJAPAHIT dikelilingi oleh tembok tinggi yang dihiasi tiga pintu gerbang.

Selain itu ada kota-kota pelabuhan yang ramai, yang disana terdapat banyak orang China dan Arab menetap, penduduk anak negeri datang ke kota-kota tersebut untuk berdagang.

Laporan Ma-Huan selanjutnya menyebutkan:

Di pusat ibukota MAJAPAHIT berpenduduk sekitar 200-300 keluarga, suatu angka yang cukup besar untuk zaman itu, penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

Setiap laki-laki yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya, mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, barang pecah belah dari porselin China dengan gambar bunga-bungaan berwarna hijau.

Mereka juga membeli minyak wangi, kain sutra, katun yang baik dengan motif hiasan ataupun yang polos. Mereka membayar dengan uang tembaga MAJAPAHIT, dan uang tembaga CHINA dari dinasti apapun laku juga di kerajaan MAJAPAHIT.

Selanjutnya, dalam buku yang berjudul Ying-Yai-Sheng-Lan itu, Ma-Huan juga mencatat sebagai berikut:

Di MAJAPAHIT, banyak bermukim orang Tionghoa atau China dari daerah Canton (Kanton), Chang Chou, Ch’uan, dan Fukien. Jumlahnya mencapai sekitar 1000 orang dan mereka tergolong orang-orang kaya.

Selain itu ada pula orang-orang asing lain yang sudah banyak bermukim di wilayah MAJAPAHIT, di antara mereka itu ada yang berasal dari Jambudipa (India), Kamboja, Champa, Yawana, Gada, Kanataka, dan Arab.

Jadi, penjelasan dari Ma-Huan ini telah menambahkan fakta yang tak terbantahkan lagi, bahwa MAJAPAHIT itu adalah sebuah negara besar yang sangat makmur dan terpandang pada masanya.

Sehingga wajar saja jika Mahapatih Gajah Mada mampu menjalankan Strategi Geo-politik “Pinjaman Emas Bersyarat”-nya kepada 145 Kerajaan di seluruh wilayah Nusantara yg menjadi daerah teritori geo-politiknya.

Selain keterangan tertulis yang berasal dari kedua orang di atas (Pastor Katolik dari Italia, Odorico Mattiuzzi dan Musafir Muslim dari China, Ma-Huan), maka dahulu di negeri CHINA pernah ditulis sebuah kitab pusaka yang memuat berbagai informasi penting.

Salah satunya mengenai kondisi di Pulau Jawa, kitab pusaka kuno tersebut saat ini berada di dataran tinggi Tibet.

Dalam salah satu keterangannya yg ada dalam Kitab Pusaka Kuno tersebut disebutkan sebagai berikut:

Istana para Dewa yang dijaga harimau, gajah, naga, burung phoenix, dan badak adalah Pulau Jawa, tempat segala kemuliaan dan ilmu pengetahuan, yang gunung, sungai dan lautnya memuntahkan emas dan permata.

Nah yang menjadi pertanyaan yg menggelitik sekarang adalah:

Lantas dimanakah gerangan jejak-jejak peninggalan MAJAPAHIT yg sangat besar dan super mewah ini berada?”

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini ada di dalam salah satu kalimat dalam catatan tulisan Pastor Katolik Odorico Mattiuzzi yakni:

“..... ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa .....”

Dan juga ada di dalam salah satu kalimat dalam catatan tulisan Musafir Muslim Ma-Huan yakni:

Penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

Kedua kalimat yang bersumber dari Pastor Odorico Mattiuzi dan Musafir Ma-Huan di atas mengenai bagaimana kondisi geografis Pulau Jawa beserta keadaan penduduknya yang telah memakai kain dan baju, sebenarnya telah digambarkan oleh Giuliamme Le Testu pada tahun 1550 Masehi dalam sebuah peta kuno yang memuat gambar Pulau Jawa Kecil (JAVA PETITE) dan Pulau Jawa Besar (JAVA LE GRANDE).

Yang saat itu memperlihatkan adanya peradaban yang sudah maju di Pulau Jawa Besar (JAVA LE GRANDE) dimana para penduduk Pulau Besar ini sudah memakai pakaian yang tertutup, namun sayang ketika Negeri Nusantara ini dijajah dan dikuasai oleh Barat (Kolonial) maka peta kuno tentang Pulau JAWA PETITE dan JAWA LE GRANDE tersebut dipalsukan dan ditutupi.

Sehingga ketika pertanyaan yang menggelitik ini ditanyakan kembali:
Lantas dimanakah gerangan jejak-jejak peninggalan MAJAPAHIT yg sangat besar dan super mewah ini berada?”

Maka jawabnya adalah bahwa apa yang digambarkan oleh Pastor Katolik Italia Odorico Mattiuzi ataupun Musafir Muslim China Ma-Huan tentang MAJAPAHIT sesungguhnya adalah MAJAPAHIT yang saat ini jejaknya ada di Pulau JAWA BESAR yang disebut oleh Para Penjelajah Portugis sebagai Pulau JAVA LE GRANDE.

Dan akhir kata, Sang Guru pun berpesan:

Yakinlah dengan janji 500 Tahun yang telah diucapkan oleh Sabda Palon, sosok yang telah mengayomi negeri ini ribuan tahun, bahwa kelak jika sudah tiba waktunya, maka MAJAPAHIT dan Pulaunya (yakni Pulau JAVA LE GRANDE) akan dimunculkan kembali ke dunia nyata mengiringi kebangkitan negeri ini untuk menjadi mercu suar peradaban dunia yang rahmatan lil ‘aalamiin.”

Demikian kiranya kajian saya tentang Strategi Hegemoni Geo-Politik “Perjanjian Emas Bersyarat” MAJAPAHIT yang saat ini ditiru dan diterapkan oleh Negara CHINA untuk memenuhi ambisinya menaklukkan duapertiga dunia. ($.$)





Nb : Bayu Sekar Jagad penulis adalah pemerhati sejarah.

Misteri Besar Hilangnya Kerajaan Besar Majapahit di Pulau Jawa

TH.Indonesia. Pati - Forum Wartawan Pati terbentuk dan berdiri sejak awal tahun 2016 lalu bersamaan runtuhnya ' Kerajaan Pokja' yang berkuasa berpuluh - puluh tahun lamanya di Kabupaten Pati, Jum'at tgl (25/05/18).

Forum Wartawan Pati dalam kegiatan PRES tour di Mojokerto - Malang Jawa Timur. 

Bermula dari kegelisahan dan kegundahan para wartawan mingguan, bulanan bahkan wartawan musiman yang 'terpinggirkan' dan tidak kopen serta dideskreditkan sebagai wartawan ecek - ecek, wartawan abal - abal, wartawan bodrek, wartawan gadungan, wartawan amplop yang menjual idealisme profesi demi sesuatu imbalan.

Maka atas inisiasi H. Tono dan kawan - kawan waktu itu (sdr. Raden Witjaksono alias Wiwit, Usman, Indro, Kunawi, dan Heru) memberanikan diri menghadap Kabag Humas Setda Pati M. Zein didampingi Agus Sunarko (saat itu)  untuk mengadukan nasib temen-temen wartawan yang belum mendapat perhatian dari Pemkab Pati.

Disampaikan kepada kabag humas bahwa masih banyak wartawan yang berada 'diluar sana' yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, sehingga pada saat itu muncul istilah wartawan luar pagar dan dalam pagar.

Wartawan luar pagar merepresentasikan kelompok mingguan, bulanan dan musiman yang tidak kopen, sedangkan dalam pagar diintrepetasikan wartawan yang diopeni humas.

Belum ada solusi dari Humas Pemkab Pati, akhirnya H. Tono dan kawan-kawan mengadakan rapat pembentukan forum wartawan yang pada saat itu diselenggarakan di salah satu resto di Jalan A. Yani Pati dan dikukuhkan di kediaman H. Tono Gembong yang dihadiri Kabag Humas Pemkab Pati H. Rasiman dan Agus Sunarko serta Alman Eko Darmo dengan nama Forum Komunikasi Wartawan ' Ajipati' dengan anggota terdiri H. Tono, Aji Gunawan, Imam, Wiwit, Wiwik, Heru, Indro, Totok, Lukito, Usman, Agus Setya, Hery, Gito, Jojo, Bambang Basu Dewa, Wahyudi, Romy, Tugi, Nurhadi, Sucipto, Imam dan nama - nama lainnya, yang jumlah keseluruhannya mencapai 30-an anggota.

Dalam perkembangannya, Forum Komunikasi Wartawan 'Ajipati' banyak mewarnai dunia kewartawanan di Kabupaten Pati.

Disamping kegiatan rutin bidang jurnalistik, juga eksis mengadakan  kegiatan bulan Ramadhan dengan membentuk Posko Mudik Lebaran (2 kali)dan Gerak Jalan  HUT Kemerdekaan RI (2 kali) dan kegiatan bersama HPN.

Pada suatu kesempatan, H. Tono dan Usman menghadap Bupati Pati H. Haryanto untuk menyampaikan informasi keberadaan Forum Komunikasi Wartawan ''Ajipati' di bawah ketua H. Tono, oleh bupati, keberadaan 'Ajipati' diharapkan dapat turut serta memberi informasi kepada masyarakat terkait pembangunan Kabupaten Pati.

Pada era itu pula muncul kelompok wartawan lain yang keberadaannya hingga sekarang.

Menjelang Pilkada Pati 2017, Bupati Haryanto dalam suatu acara bersama wartawan bertempat di Pendopo Kabupaten Pati, berpesan dan menghimbau supaya wartawan tidak terkotak - kotak dalam berbagai kelompok dan meminta supaya hanya ada satu wadah yang dinamakan Wartawan Pati.

Dengan segala kearifan dan kebijaksanan mbah Alman dan H. Tono maka Pokja dan 'Ajipati' berfusi menjadi satu dengan nama Forum Wartawan Pati, dengan Ketua Alman Eko Darmo, Sekretaris Agus Setya/ Lukito dan Bendahara H. Tono.

Kelompok baru dengan nama Forum Wartawan Pati ini pernah pula mengadakan presstour ke Yogyakarta dengan dua bus termasuk kelompok lain tersebut.

Forum Wartawan Pati dalam kegiatan diskusi bersama. 

*FGD*
Terbentuknya Focus Group Discussion ( FGD ) adalah murni kegiatan Humas Pemkab Pati bersama wartawan untuk mengangkat isu - isu dan dinamika Kabupaten Pati.

Menurut Agus Sunarko waktu awal - awal pembentukannya, FGD sebagai bentuk 'cara' Humas Pemkab Pati dalam memberi 'perhatian' kepada wartawan dengan memberi 'upah' mengikuti FGD sesuai indek di Kabupaten Pati.

Karena sebelumnya, wartawan yang terdata oleh Humas Pemkab Pati pada setiap bulannya menerima uang 'transpor' dan kebijakan humas tersebut masih menurut Agus Sunarko, 'dipersalahkan' oleh Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ) /  Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) karena dianggap tidak sesuai dengan tata kelola anggaran yang baik, sehingga dicari solusi yang ideal yaitu penyelenggaraan FGD hingga sekarang.

Walaupun kenyataannya, FGD hingga saat ini belum mampu mempersatukan Forum Komunikasi Wartawan Pati dan kelompok lain tersebut, terbukti masih adanya dua penyelenggaraan FGD. (U$man)










Nb : Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung dan mendeskreditkan siapapun dan pihak manapun.

JAS MERAH : Sejarah Berdirinya Forum Wartawan Pati di Kabupaten Pati