TH.Indonesia. Pati - Sejumlah warga Desa Plumbungan, Kecamatan Gabus Kabupaten Pati mengeluhkan akses jalan poros desa yang sudah sejak tiga tahun lebih dibiarkan rusak parah, Rabu tgl (30/01/19).

Jalan poros menuju desa rusak parah dari tahun ke tahun, apalagi mudim jujhu tiba.

Jalan desa Plumbungan yang menghubungkan dari Gapura timur menuju poros jalan utama sepanjang 500 m rusak parah hingga depan pengusaha selep padi atau Roosmild milik bpk Sahuri.

Selain aspalnya mengelupas, hampir seluruh jalan tersebut berlubang dengan kedalamaan 5 sampai 25 cm.

Desa plumbungan adalah desa strategis di sebelah selatan kota Pati karena di desa ini ada jalan penghubung antara jalan raya Pati - Gabus dengan jalan raya Pati - Kayen.

Oleh karena itu mulai tahun 2010 jalan alternatif penghubung tersebut di ambil alih oleh PU dalam membangun pembetonan jalan maupun pembangunan talud semuanya dalam tanggung jawab dinas Pekerjaan Umum pemerintah kabupaten Pati.

Namun belum semua jalan poros desa Plumbungan ini mulus dan nyaman untuk dilewati. Penyebab kerusakan jalan, salah satunya sering kali dilewati kendaraan truck bermuatan berat.

Seperti halnya jalan penghubung Desa Plumbungan dan Desa Koripan dan arah desa Penanggungan kecamatan Gabus Pati. 

Jalan sepanjang kurang lebih 500 meter ini dibiarkan rusak, sehingga membahayakan pengguna jalan.

Jalan rusak ini sudah berlangsung hampir 3 tahun lebih. Ironisnya, jalan poros desa ini lokasinya tidak jauh dari jalan utama Gabus - Pati. 

Kerusakan jalan disebabkan sering kali dilewati kendaraan truck atau kendaraan lain yang bermuatan, kerusakannya hampir merata sepanjang jalan desa kurang lebih 500 meter.

Salah satu warga, saat melintasi menjelaskan, “pengguna jalan, terutama kendaraan roda dua harus ekstra hati hati saat melintas karena jalan sangat licin dan berlumpur jika terjadi hujan bahkan genangan air  yang menutupi lubang mengakibatkan beberapa kendaraan bermotor harus terpeleset.

Para pengendara jika tidak ekstra hati-hati, pengendara bisa terjatuh, karena jalan berlubang. "Disaat musim penghujanpun, jalan ini sangat berbahaya, selain tergenang, jalan juga semakin licin dan berlumpur," ujarnya.

Sejauh ini, perbaikan jalan hanya dilakukan sekedar ditambal sulam saja, warga berharap agar ada perbaikan secara permanen secepatnya.

Jalan poros desa ini menjadi jalur alternatif utama bagi warga yang berada di Plumbungan dan sekitarnya, menuju akses desa Koripan dan desa Penanggungan ke kota Pati atau yang mengarah ke kecamatan Gabus. 

Kerusakan pada poros jalan desa itu bukan hanya menghambat perekonomian masyarakat namun membahayakan para pengendara pengguna jalan terutama roda dua.

Salah seorang masyarakat desa setempat saat melintasi jalan tersebut mengatakan, kondisi rusaknya jalan poros desa yang menghubungkan Gapura timur (desa Plumbungan) jalan utama Gabus - Pati ke arah Desa Koripan atau Desa Penanggungan Gabus sepanjang 500 m menuju desa merupakan akses utama perekonomian masyarakat setempat.

Sebab, aktivitas warga yang hendak menggarap sawah dan ladangnya atau yang pergi sekolah dan bekerja melalui jalur ini sangat mengeluhkan hal tersebut.

Akses jalan utama menuju desa dari Gapura timur desa sudah mulai rusak.

Jalan poros desa itu merupakan satu-satunya yang bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat sebagai jalan alternatif.

“Mulai dari Gapura timur masuk arah jalan poros ruas dari jalan kabupaten menuju Desa Koripan atau Penanggungan yang dipadati permukiman warga termasuk menuju desa Plumbungan mesti ekstra hati-hati karena banyaknya jalan yang berlubang cukup dalam.

Apalagi disaat musim penghujan seperti ini tidak sedikit yang terperosok,” kata warga akhir pekan lalu.

Hal senada juga diutarakan warga Desa Plumbungan lainnya,  menurutnya, “jalan poros desa yang menghubungkan dua desa itu pernah dibangun oleh PU.

Namun hingga saat ini belum pernah ada perbaikan, padahal akses jalan ini merupakan akses utama perekonomian masyarakat perdesaan.

“Saya prihatin, saat warga mau ke sawah dan ladang maupun yang pergi sekolah yang bekerja harus ekstra hati-hati melalui akses jalan ini. 

Ia menambahkan, pihaknya sudah mencoba mengoordinasikan ini dengan pihak desa tapi belum ditanggapi secara serius. “Saya berharap pemerintah bisa membantu keluhan warga terkait jalan ini,” keluhnya.

Sementara itu Kepala desa Plumbungan belum ada tanggapan  serius terkait parahnya kerusakan jalan poros desa yang menghubungkan dua desa tersebut.

Namun mengingat kemampuan anggaran desa yang terbatas, pihaknya hanya bisa membangun jalan lingkungan.

“Untuk membangun jalan poros desa itu membutuhkan biaya yang cukup besar hingga ratusan juta.

Pihak desa juga bukan tidak mengeluh dan tidak berusaha untuk mencari solusi untuk jalan poros desa itu. 

Kami sudah mengusulkan untuk rehab pembangunan jalan poros desa ke pihak pemerintah desa maupun kabupaten namun saat ini belum ada jawaban,” tutur warga setempat. ($.ucipto)

Warga Desa Plumbungan, Keluhkan Jalan Utama Menuju Desa Rusak Parah

TH.Indonesia. Pati - Diguyur hujan sejak minggu malam hingga pagi dengan curah hujan yang tinggi membuat beberapa desa di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati terendam Banjir.

Banjir meluas di beberapa desa di kecamatan Kayen Pati.

Dari Pantauan media awak media sedikitnya ada delapan Desa di Kecamatan Kayen Pati terendam banjir, Senin tgl (28/01/19).

Dari Informasi yang dihimpun oleh  Babinsa Koramil 04 Kayen dan warga setempat serta dari berbagai sumber, beberapa desa yang terdampak diantaranya Desa Sumbersari, Desa Kayen, Desa Slungkep, Desa Srikaton, Desa Jatiroto, Desa Talun, Desa Pasuruhan dan Desa Trimulyo.

Bahkan dari delapan desa yang terendam, satu desa diantaranya kondisi ketinggian airnya paling dalam yaitu Desa Srikaton Dukuh Popoh mencapai Lutut orang dewasa antara 30 hingga 70 cm.

Menurut warga setempat saat disambangi awak media menjelaskan,”setiap musim hujan tiba apalagi hujan yang terus menerus mengguyur dari malam kemarin sampai hari ini, beberapa wilayah kecamatan Kayen kebanjiran. 

Dikarenakan kondisi daerah yang sedikit rendah dan sering menjadi langganan banjir, ” Jelas warga yang melintas di lokasi genangan banjir.

“Serta di puncak gunung saat ini telah gundul, tidak ada hutan seperti dulu. Makanya daerah Kayen dalam pantauan serius karena rawan banjir terutama desa desa yang di lewati aliran air sungai dari gunung kendeng,” sanggah warga lainnya.

“Seperti puncak gunung sekarang telah beralih fungsi karena menjadi lahan jagung yang ditanam warga. 

Tanaman tersebut tak mampu menahan air hujan, sehingga banjir lumpur tak terelakkan ketika hujan deras mengguyur  belakangan ini,” imbunya.

“Kami berharap ada solusi dari pemerintah daerah untuk daerah-daerah yang rawan banjir sehingga setiap musim hujan tiba tidak kebanjiran lagi,” harap warga.

Selain di beberapa desa lainnya seperti di Jalur Kayen - Pati, turut Desa Jatiroto juga terendam banjir sehingga mengakibatkan beberapa kendaraan harus putar balik dikarenakan tidak mau kendaraan mereka mogok terkena air.

Tepatnya di depan pintu masuk RSUD Kayen volume air mencapai 50 hingga 100 cm, mengakibatkan sejumlah pengendara roda dua khususnya terlihat bak antrian panjang terpaksa harus menunggu hingga banjir surut.

Dan yang memprihatinkan adalah ada  beberapa sekolah yang terpaksa di liburkan karena tergenang air setinggi lutut orang dewasa.  

Seperti MI Mambaul Landoh Kayen saat disambangi, semua dewan guru masuk sekolah untuk berjaga jaga di dalam kelas mengantisipasi terjadi ketinggian air bertambah sehingga bisa menyelamatkan buku sekolah dan yang lainnya.

Ada juga yang melakukan bersih-bersih kelas dari endapan lumpur setebal 3-5 cm.
Curah hujan yang tinggi juga di barengi dengan angin yang cukup ektrim, mengkibatkan putusnya jaringan PLN di dukuh Malangan desa Trimulyo sehingga  warga harus ekstra hati hati dalam melintasi jalan tersebut. 

Walaupun upaya pemerintah dalam mengatasi banjir di Kayen ini diataranya telah ditinggikan jalan dengan rabat beton dan pengerukan sungai disepanjang aliran sungai dari gunung kendeng masih juga menyisakan banjir tiap turun hujan, sehingga warga usulkan pengerukan sungai lagi.

Dari usulan  warga yang dirilis awak media pengerukan sungai Kesinan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi banjir di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.

Banjir yang hampir setiap tahun menggenangi area pemukiman, ladang serta sawah warga setempat, disinyalir akibat pendangkalan sungai Kesinan,” pasalnya.

“Banjir disebabkan pendangkalan sungai begitu muncul  warga memberikan alasanya kepada awak media Intensitas hujan dari daerah lain yang lebih tinggi juga melewati kayen.

Kata warga desa Srikaton masyarakat mengatakan bahwa didesanya dilewati sungai kali Kesinan.

Penggundulan hutan yang terletak disekitar kecamatan  Kayen juga menjadi penyebab seringnya banjir didesanya,” ujar warga dengan nada memelas.

Kali kesinan sudah waktunya dikeruk, pengerukan terakhir dilakukan 3 tahun yang lalu,”tambahnya.

Warga juga menjelaskan  bahwa seharusnya kali Kesinan dikeruk setiap 4 tahun sekali.

Dia menganggap gundulnya hutan dan dan pendangkalan kali Kesinan adalah penyebab utama meluapnya sungai yang melewatinya.

Berdasarkan pantauan awak media sungai yang melewati beberapa desa di Kecamatan Kayen itu meluap akibat curah  hujan tinggi mengguyur wilayah Pati selatan selama beberapa hari terakhir.

Hingga senin siang, air masih menggenangi sawah , ladang serta halaman rumah penduduk setempat. ($.hodiqin)

Curah Hujan Yang Sangat Tinggi, Delapan Desa di Kayen Terendam Banjir

TH.Indonesia. Sejarah - Awal Agustus 1948. Menjelang datangnya waktu lebaran, para prajurit Divisi Siliwangi dari Batalyon Rukman mulai resah. Alih-alih mendapat gaji, mereka tak melihat tanda-tanda pemerintah akan memberikan tunjangan hari raya, sementara itu istri dan anak di asrama penampungan mulai merengek-rengek.

Dok/THI.

“Itu menjadikan kami tak fokus lagi menjalankan tugas sebagai tentara,” ungkap Soempena (92), mantan kopral di Batalyon Rukman.

Sesampainya di wilayah Jawa Tengah, kondisi ekonomi para prajurit Siliwangi dan keluarga yang turut berangkat, hampir bisa dikatakan sehari-harinya berlangsung morat-marit. Jangankan hidup layak, untuk sekadar tidur pun mereka harus berdesak-desakan di asrama-asrama sempit dan kotor.

“Pokoknya sengsaralah saat itu kami di kampung orang,” kenang Soehanda.

Merasa tak memiliki apa-apa untuk berlebaran, lantas muncul ide gila dari sebagian prajurit untuk mengambilalih (waktu itu dikenal dengan istilah mendaulat) logistik yang tersimpan di Rumah Penjara Negeri Surakarta.

Atas kesepakatan sepihak dari sebagian prajurit Bataliyon Rukman itu, maka bergeraklah sekelompok pasukan ke rumah penjara tersebut.

“Mereka lantas melakukan aksi penggedoran (meminta secara paksa) dan perampasan barang-barang persedian tersebut untuk kemudian dibagikan kepada seluruh anggota bataliyon dan keluarganya,” ujar Soe Hok Gie dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Aksi liar Yon Rukman itu mendapat sambutan negatif dari rakyat setempat. Mereka melaporkan soal itu kepada kesatuan TNI setempat: Yon S (Batalyon Singowareng) dari Divisi IV Surakarta dan pasukan TP (Tentara Pelajat). 

Sebagai respon, kedua pasukan tersebut mengutus beberapa prajuritnya ke asrama Yon Rukman untuk menegur perbuatan itu. 

Entah caranya yang terlalu keras atau karena anak-anak Yon Rukman sudah “gelap”, teguran itu malah disambut dengan sikap keras pula hingga berujung pengepungan asrama Yon Rukman oleh Yon S dan pasukan TP.

Beberapa hari setelah lebaran, negoisiasi pun kembali dilakukan. Mayor Rukman yang langsung turun tangan, mengaku salah dan berjanji kepada Yon S dan TP untuk menyerahkan anak-anak buahnya yang terlibat penggedoran kepada Polisi Tentara (PT). 

Kesepakatan untuk melokalisir masalah tersebut secara internal hampir tercapai, hingga tiba-tiba salah seorang pimpinan utusan dari kedua pasukan itu menuntut agar semua persenjataan Yon Ruman diserahkan kepada Yon S dan pasukan TP. 

Lantas apa jawaban Mayor Ruman atas tuntutan tersebut?

“Besok pagi jam 07.00, kami akan menyerahkan senjata-senjata kami. Tapi sebelum itu terjadi, kami akan membela diri terlebih dahulu!” ujar Mayor Rukman seperti ditulis dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa (Diterbitkan oleh Pusjarah Kodam III Siliwangi pada 1968).

Memasuki bulan Syawal hari ke-18, kumandang adzan subuh baru saja berlalu di kawasan Tasikmadu (12 km sebelah timur Surakarta), saat ratusan prajurit dari Yon S dan TP mengepung Asrama Kompi II Yon I Brigade XIII/ KRU Z Siliwangi pimpinan Mayor U. Rukman. 

Beberapa di antara mereka nampak langsung memasang posisi tempur di antara rumah penduduk, sementara sebagian besar yang lain bergerak menyebar.

"Dalam penyerangan tersebut, dilibatkan pula beberapa unsur rakyat…” tulis Soe Hok Gie.

Di dalam asrama, Mayor Rukman memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan senjata masing-masing. Sesungguhnya sejak malam hari, mereka sudah bersiap untuk menyambut para penyerang. 

Dia lantas mengintruksikan beberapa perintah kepada masing-masing komandan peleton.

Hening menyeruak di kawasan Tasikmadu ketika toko-toko yang baru buka serentak ditutup kembali para pemiliknya, di dalam rumah, para penduduk terdiam dalam helaan nafas tegang. 

Beberapa menit kemudian, sebuah letusan terdengar, diiringi tembakan-tembakan yang menyalak ramai dari berbagai jenis senjata. 

Bunyi peluru terdengar berdesingan. Suaranya yang mengerikan bersanding dengan teriakan-teriakan para prajurit dari kedua pihak.

Setelah bertempur hampir dua jam, para penyerang berhasil dipukul mundur. Tak diketahui secara pasti berapa korban yang jatuh di pihak Yon S dan pasukan TP, yang jelas, Yon Rukman sendiri telah kehilangan tiga prajuritnya dalam insiden Syawal berdarah tersebut.

Beberapa hari kemudian, pihak TNI di wilayah Surakarta mengajukan protes keras. Lewat Letnan Kolonel Soeadi Soeromihardjo, Divisi IV Panembahan Senopati Surakarta menuntut agar Batalyon Rukman ditarik dari Surakarta.

“Untuk tidak memperpanjang masalah, permintaan tersebut kami penuhi. Rukman dan pasukannya kami perintahkan kembali ke Jawa Barat guna melakukan perlawanan secara rahasia terhadap Belanda,” ungkap Kolonel (Purn) Omon Abdurachman, eks Kepala Staf Brigade ke-13 Divisi Siliwangi dalam sebuah dokumentasi pribadinya. (Rozi)

Pertempuran Prajurit Siliwangi Menjelang Lebaran

Curah Hujan Yang Tinggi Berdapak Beberapa Desa Terancam Banjir di Kecamatan Gabus

TH.Indonesia. Pati - Bertempat di  Aula SMPN 1 Juwana Kabupaten Patu, Danramil 02 Juwana, Kapten Inf Yahudi S.Sos Mensosialisasikan atau memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada pelajar dan guru  SMPN 01 Juwana, di desa Kudukeras Kecamatan Juwana Kab. Pati, Senin tgl (21/01/19).

Kapten Inf. Yahudi S.Sos memberikan materi wawasan kebangsaan.

Menurut Kapten Inf Yahudi S.Sos, wawasan kebangsaan Pancasila harus dipahami sejak dini, karena untuk menanamkan ideologi kebangsaan yang kuat dan rasa cinta tanah air serta mengetahui dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.

"Kita memotivasi generasi muda dimulai dari pelajar untuk belajar pengetahuan Pancasila, bagaimana hidup berbhineka tunggal ika dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila," ujarnya.

"Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ada 4 pilar yang perlu kita ketahui bersama yakni Pancasila, UUD Negara RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika," imbuhnya.

Menurutnya, pola kehidupan seperti ini perlu terus disosialisasikan kepada generasi muda, karena sampai saat ini mereka dalam bersikap dan bertindak banyak yang masih belum mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai Dasar Negara.

"Generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan generasi seperti dulu, dimana di zaman sekarang ini para generasi muda kita masih sangat kurang peduli terhadap wawasan kebangsaan," tegasnya.

"Jangan gampang terhasut ataupun terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI yang kita cintai ini," tandasnya.

Diakhir penyampaiannya dalam memberikan wawasan kebangsaan, Kapten Inf Yahudi S.Sos menjelaskan bagaimana perjuangan para pejuang yang sudah mempertahankan keutuhan NKRI dengan mengorbankan jiwa dan raganya, menjaga kekompakan dengan tidak saling membeda-bedakan sehingga terjadi permusuhan, perpecahan diantara kita kemudian musuh dengan gampang merebut Indonesia.

Kepala Sekolah SMPN 1 Juwana, Drs. Mashuri, S.Pd memberikan apresiasi “kami berterima kasih kepada Danramil 02 Juwana yang telah sudi dan meluangkan waktunya untuk memberikan Wasbang kepada Guru  SMPN 1 Juwana sebagai tenaga pendidik kepada siswa-siswi melalui pembekalan yang diberikan ini menjadi pedoman untuk para Guru,” Ungkap Kepala Sekolah.

Sangat penting untuk generasi milineal sekarang ini agar lebih paham tentang pendidikan dan wawasan kebangsaan sebagai sarana cinta tanah air dan Bangsa. ($.hodiqin)

Siswa dan Guru SMPN 01 Mendapatkan Wawasan Kebangsaan Oleh Danramil Juwana

TH.Indonesia. Sejarah - "Ketika Si Bung murka atas tenggelamnya KRI Matjan Tutul berujung kepada pemberhentian KASAU Suryadarma dan diadakannya Operasi Jayawijaya."

Dok/THI.

Apa yang terjadi usai KRI Matjan Tutul dikeroyok oleh tiga kapal perang Belanda? Dalam pelariannya di atas KRI Harimau, Kolonel Sudomo dengan sigap segera mengirim kawat ke MBAL (Markas Besar Angkatan Laut) di Jakarta. 

Dia meminta agar MBAL mengontak MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) agar secepatnya mengirimkan pesawat-pesawat pembom AURI untuk membantu posisi KRI Matjan Tutul.

“Saya meminta mereka untuk membom saja kapal-kapal Belanda yang sedang mengejar tersebut, karena jelas mereka semua sudah memasuki wilayah perairan territorial Indonesia,” ujar Sudomo kepada Julius Pour dalam Laksamana Sudomo Mengatasi Gelombang Kehidupan.

Alih-alih terlaksana, permintaan Sudomo itu malah tak mendapat respon apapun. Mengetahui gelagat seperti itu, Asisten Operasi KASAD Kolonel Moersjid yang saat itu ada di dalam KRI Harimau, menjadi geram. 

Belakangan, diketahui bahwa meskipun kawat itu sampai ke MBAU, namun pihak AURI mengalami kesukaran teknis operasional untuk mewujudkan suatu permintaan yang sifatnya mendadak dan tidak terencana.

Presiden Marah,, begitu sampai di pangkalan, Kolonel Moersjid langsung terbang ke Jakarta. 

Setiba di ibu kota, dia lantas menemui Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution. Moersjid melaporkan semua yang dia alami di Arafuru, termasuk respon negatif AURI. Nasution menanggapinya dengan diam seribu basa. 

Moersjid kesal, lantas berkata kepada atasannya itu ;

“Jenderal takut melaporkan kenyataan ini?”
Hening sejenak, namun keluar juga ucapan dari Nasution.

“Hari ini akan ada sidang Dewan Pertahanan Nasional di Istana Bogor, silakan Kolonel ikut ke sana…”

Empat hari setelah kejadian Insiden Arafuru, Moersjid melangkah ke ruang rapat di Istana Bogor. 

Di hadapan Presiden Sukarno dan para perwira tinggi, secara emosional dia menceritakan apa yang dia alami selama ada di palagan Arafuru.

"Saya tak pedulikan semuanya, pangkat saya hanya kolonel, pangkat paling rendah dari seluruh hadirin di ruangan tersebut. 

Saya nothing to lose, maka saya beberkan saja semuanya dengan lugas. Omong kosong AURI mampu menjaga wilayah udara Indonesia up to the minute, omong kosong karena tak seekor pun (pesawat) capung muncul ketika kapal kami diserang…”

Mendengar laporan langsung dari Moersjid, wajah Presiden Sukarno menjadi merah padam, nampak sekali Si Bung menjadi murka. Dia lantas membuat rapat terbatas bersama panglima dari ketiga angkatan: Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Saat memasuki ruang rapat itulah, tetiba Kasal R.E. Martadinata langsung menunjuk muka Kasau Suryadarma. “Mengapa AURI tidak membantu kapal saya?!” tanyanya sambil terlihat emosional.

Suryadarma yang merasa tak pernah dilibatkan dalam operasi itu tentu saja tak bisa menerima begitu saja dirinya disalahkan. 

Menurutnya, tak ada alasan bagi AURI untuk menolak tugas jika memang sebelumnya sudah dikonfirmasi mengenai suatu operasi rahasia.

“Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada surat tembusan ke AURI bahwa ALRI sedang mengadakan operasi,” jawab Suryadarma dalam biografinya Bapak Angkatan Udara: Suryadi Suryadarma karya Adityawarman Suryadarma.

Usai rapat, Suryadarma langsung menuju MBAU. Dari seluruh berita yang masuk melalui PHB Langgur ditemukan satu berita SOS yang berasal dari KRI Matjan Tutul (bukan dari KRI Harimau). 

Namun ketika dikonfirmasi oleh PHB Langgur, taka da respon sama sekali dari sana. Saat itu juga, PHB Langgur menindaklanjuti dengan melakukan cross-check ke PHB Cililitan, dilanjutkan dengan menanyakan kepada piket Komando Mandala. 

Keadaan piket Komando Mandala pun menyatakan tak tahu menahu tentang adanya kegiatan operasi tersebut.

Suryadarma Diberhentikan
Merasa tidak ada yang salah dengan AURI, dalam rapat kedua di Istana Merdeka bersama Bung Karno dan Kasad Nasution serta Kasal Martadinata, Kasau Suryadarma menyatakan bahwa AURI tak bisa disalahkan dalam kasus tersebut. 

“Bagaimana AURI bisa membantu kalau tidak tahu adanya kegiatan kalian. Kita harus lebih terbuka dalam merencanakan semua kegiatan operasi…” ujar Suryadarma.

Apapun yang terjadi, Bung Karno terlanjur marah akibat Insiden Arafuru tersebut. Kepada ketiga kepala staf itulah, dia lantas bertanya: siapkah untuk melakukan aksi balas dendam kepada Belanda? Martadinata dan Nasution menyatakan siap, hanya Suryadarma yang menyatakan tidak.

Dalam biografinya, Suryadarma menyatakan tidak yakin dengan kekuatan personilnya, jika keinginan Bung Karno, bahwa tentara kita harus diterjunkan secara besar-besaran di Irian itu artinya Indonesia sudah menyatakan perang terbuka kepada Belanda. 

Untuk perang terbuka, kata Suryadarma, PGT (Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara) tentu saja belum memiliki kemampuan itu. 

Mereka hanya bisa melakukan operasi terbatas saja, soal perlengkapan komunikasi antar pasukan pun dinyatakan masih minim. Singkatnya, Suryadarma tidak ingin mengorbankan jiwa prajurit-prajuritnya secara sia-sia, hanya untuk menyenangkan hati Bung Karno.

Kepada Si Bung, Suryadarma juga memaparkan bagaimana masalah akan terjadi jika pesawat-pesawat pembom AURI tidak mendapat pangkalan yang layak untuk menyerang posisi Belanda di Irian. 

“Kita memang punya Morotai, tapi terlalu jauh dari Irian. Adapun pangkalan udara Leftuan dan Langguran yang relatif dekat dengan Irian, kondisinya tidak memenuhi syarat untuk didarati oleh MIG-21…” ungkap Suryadarma.

Alih-alih bisa menerima alasan Suryadarma, Bung Karno malah menarik Nasution dan Martadinata ke ruang sebelah. 

Mereka meninggalkan Suryadarma sendirian. Suryadarma sendiri mengakui dia sangat kecewa diperlakukan demikian oleh pimpinan tertingginya.

Setelah beberapa lama, Bung Karno dan kedua kepala staf kembali ke ruangan di mana Suryadarma berada. 

Dengan suara berat namun tegas, ia menyatakan memberhentikan Suryadarma dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Udara dan mengangkat Omar Dani sebagai penggantinya. 

Tentu saja, sebagai seorang tentara, tak ada sikap lain selain menerima pemberhentian itu secara lapang dada.

Sepeninggal Suryadarma, operasi “balas dendam” pun dirancang, awalnya aksi militer yang diberi sandi “Operasi Jayawijaya” itu akan dilakukan pada 12 Agustus 1962. 

Lantas karena banyak kendala, kemudian dimundurkan menjadi tanggal 19 Agustus 1962. Sebelum terjadi, empat hari pra operasi, markas besar PBB di New York mengumumkan bahwa perundingan antara Indonesia dengan Belanda telah berhasil mencapai suatu kesepakatan, Belanda akan angkat kaki dari Irian Barat pada 1 Mei 1963, maka otomatis Operasi Jayawijaya pun tidak jadi diselenggarakan. 

KRI Matjan Tutul saat melaju ke Arafuru, menerjang badai pertempuran yang tidak berimbang.

Sejarah mencatat peristiwa itu sebagai kisah heroik KRI Matjan Tutul yang gagah perkasa bersama sang komodor Yos Sudarso, walaupun harus berdarah darah menghadapi lawan lawannya digempur dari depan kanan dan kiri hingga jatuh tersungkur dan tenggelam bersama awaknya kapalnya, hingga detik terakhir kematian beliau masih terus semangat untuk terus berjuang hingga tetes darah terakhir. ($.rozi)

Tenggelamnya KRI Matjan Tutul Bersama Komodor Yos Sudarso

TH.Indonesia. Pati - Kisah hidup seorang ibu Sunarlin (60) thn yang teraniaya oleh anak kandungnya sendiri Murtini istri dari Suyana kades Ngablak kecamatan Cluwak kabupaten Pati.

Kisah sedih ibu Sunarlin yang terhimpit permasalahan keluarga.

Awal cerita adalah meminta warisan tanah pekarangan milik Marjono suami dari ibu Sunarlin yang notabene adalah orang tua kandung dari Murtini istri Kades Suyana tanpa diketahui oleh saudaranya yang lain, Minggu tgl (13/01/19).

Tanah pekarangan yang masih menjadi hak milik keluarga, ternyata diminta secara sepihak oleh Murtini anak kandung kedua dari ibu Sunarlin dari lima bersaudara.

Hal inilah yang memicu keributan antara ibu kandung Sunarlin dan anak kedua Murtini, hingga ibu Sunarlin di dorong hingga akhirnya jatuh tersungkur terbentur pagar.

Saat keterangan dari beliau ibu Sunarlin bahkan dikata katai orang ga waras, edan (gila) masuk'e rumah sakit jiwa wae," kata sang putri kandung Murtini, cerita sang ibu sambil menerawang dan nge-lus elus dadanya yang terasa sesak dan menahan sakit (jantung).

Keadaan inilah yang membuat beban pikiran sang ibu Sunarlin hingga berkali-kali jatuh sakit, merasa sedih melihat perilaku anak kandungnya sendiri yang dilahirkan dan besarkan sejak kecil durhaka terhadap orang tuanya sendiri.

Kerinduan seorang ibu yang selalu memberikan kasih sayang selama ini ternyata tak berujung manis, hanya kata kata kasar yang di dapatinnya, hal inilah yang membuat ibu Sunarlin sangat menyayangkan kejadian seperti ini.

Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, manusia memang tempatnya salah dan dosa namun alangkah naifnya jika masalah warisan menjadi pemicu keretakan hubungan anak dan ibu, sambil menerawang dengan raut wajah penuh penyesalan masih kata beliau ibu Sunarlin.

Tidak pernah ada seorang ibu yang tega kepada anaknya sendiri demikian juga seekor harimau tidak akan pernah memangsa anaknya sendiri, walaupun pahit dan getir dalam menghadapi permasalahan kehidupan ini. (bersambung)

Kisah Hidup Ibu Sunarlin Yang Teraniaya Oleh Putri Kandungnya Sendiri

TH.Indonesia. Sejarah - "Ratusan tawanan Republik yang diangkut dalam gerbong-gerbong tertutup dan dibiarkan kelaparan dan kehausan dalam perjalanan Bondowoso-Wonokromo" sangat tidak manusiawi.

Gerbong kematian sebagai satu saksi bisu kekejaman para penjajah kolonial.

Tepat 70 tahun lalu, sekira 100 tawanan Republik digiring ke stasiun Bondowoso. Mereka lantas dinaikan ke tiga gerbong. Masing-masing bernomor GR.4416, GR.5769 dan GR.10152. Rencananya tawanan tersebut akan diberangkatkan ke Surabaya pada hari itu juga.

Namun, begitu peluit pemberangkatan akan ditiup, masalah muncul ketika massa yang sebagian besar terdiri dari keluarga para tawanan memenuhi stasiun. Akhirnya, pihak militer Belanda diam-diam memutuskan pemberangkatan akan dilakukan besok pagi.

Minggu, 23 November 1947, pagi baru saja datang ketika para tawanan kembali diangkut ke stasiun Bondowoso, begitu tiba di stasiun mereka langsung dimasukkan ke dalam tiga gerbong kereta barang, tepat pukul 07.00 usai ditutup rapat, kereta api pun berangkat.

Slamet Karsono masih ingat, suasana menjadi gelap dan pengap, terlebih di gerbong tersebut tak ada lubang hawa sama sekali, selama kereta api berjalan suasana terasa sangat menyiksa, hawa panas mulai mendera pengap tanpa ada udara sama sekali.

“Semakin siang, udara semakin panas dan menjadikan sebagian dari kami panik, menggedor-gedor badan kereta supaya gerbong dibuka,” ujar Slamet Karsono dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid IV. Serdadu pengawal dari Marinir Kerajaan (KM) tak menghiraukannya.

Menjelang tengah hari, kereta api akan tiba di stasiun Jember, di tengah suasana sangat panas, gelap dan pengap, Karsono masih sempat menyaksikan sosok-sosok tubuh bertelanjang bulat menggeliat bagai cacing yang kepanasan saling berebut lubang udara sebesar ujung paku di dinding gerbong, seorang gerilyawan tua asal Maesan bernama Asbun tak berdaya di tengah-tengah himpitan orang-orang kalap itu.

“ Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah… Allahu Akbar, berilah aku kekuatan. Ya Allahhh, panasss… Airrr…” rintihnya.

Karsono tak bisa berbuat apa-apa, jangankan menolong Asbun, dia sendiri tengah tersiksa oleh situasi gerbong yang seolah bagaikan neraka. 

Tak kuat menahan rasa haus, dia meminta rekannya bernama Singgih untuk buang air kecil. Dia terpaksa minum air seni itu. “Rasanya pahit,” kenang lelaki kelahiran Purbalingga pada 1915 itu.

Penderitaan para tawanan agak berkurang saat kereta api mulai berangkat lagi dari stasiun Jember (setelah dua jam berhenti), hujan turun rintik-rintik.

Otomatis suhu panas di dalam gerbong berangsur turun, sementara itu, para tawanan yang masih mampu bergerak merayap bak binatang melata mencoba menjilati titik-titik air hujan yang melekat di dinding gerbong.

Di gerbong lain, Soetedjo merasakan kondisi yang sama seperti dialami oleh Karsono, kekurangan cairan dan energi yang banyak keluar karena kerja keras membuat lubang udara dengan sepasang sendok dan garpu, menjadikan mereka kehausan.

Pernah dicoba menggedor-gedor bagian gerbong yang ditempati para pengawal untuk memohon air minum, namun jawaban menyakitkan justru mereka dapat.

“Godverdomme! Hei anjing, di sini tidak ada air, yang ada peluru, di Surabaya, nanti kamu bisa minum sepuas-puasnya!”

Menurut Djoko Sri Moeljono (79), Soetedjo berserta kawan-kawannya bisa bertahan berkat satu buah mangga yang kebetulan dibawa salah seorang tawanan. “Biji plok-nya kemudian dijilati sepanjang perjalanan sekadar untuk membasahi tenggorokan,” ungkap putra dari Soetedjo tersebut.

Suasana neraka mulai berakhir menjelang pukul 20.00, saat kereta api tiba di tujuan Stasiun Wonokromo, Surabaya. Setelah peluit tanda berhenti berbunyi, para serdadu pengawal berloncatan lalu membuka pintu gerbong-gerbong dan menghardik para tawanan untuk cepat keluar satu per satu.

“Ayo, cepat! Keluar!” teriak seorang serdadu seraya mengokang senjatanya, namun, tak ada suara sama sekali. Suasana hening yang ada hanya desiran angin yang berhembus.

Awalnya para pengawal marah dan terus berteriak-teriak, namun setelah semua pintu gerbong dibuka lebar, terkejutlah mereka. Di hadapan mata mereka, nampak tumpukan dan serakan mayat manusia.

Ada yang dalam posisi berpelukan, terlentang dan tertelungkup, di sisi lain, sejumlah tawanan mati dalam kondisi terbelalak matanya, sementara tawanan lain tewas dengan seluruh tubuh penuh goresan kuku.

Usai semua diturunkan, 46 dari 100 tawanan telah tewas, dalam proses evakuasi, para gerilyawan yang gugur itu tidak mudah diangkut dan dipindahkan mengingat kulit mereka sudah terlanjur menyatu dengan badan gerbong dan akan terkelupas bila dipaksakan.

Sejatinya, seorang anggota militer Belanda bernama Giovanni Hakkenberg sudah memberitahu kondisi tak manusiawi gerbong-gerbong itu kepada komandan lokal dari Dinas Keamanan Brigade Marinir (VDMB).

Bahkan, pemberitahuan itu diulangi Giovanni ketika melihat indikasi laporannya tidak diindahkan. “Jangan lakukan itu,” katanya seperti dikutip Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950.

Namun, komandan itu juga tak bisa berbuat apa-apa, karena gerbong-gerbong itu sudah terlanjur ada di stasiun Bondowoso, sedangkan pengiriman tawanan ke Surabaya harus secepatnya dilaksanakan.

Para tawanan gerilyawan yang berhimpitan dan berdesak desakan di gerbong kereta api.

Belakangan, Joop Eikenboom (salah satu serdadu yang terlibat dalam pengawalan kereta api maut itu) menyatakan rasa penyesalannya yang mendalam. Seperti rekan-rekan lainnya, semula dia mengira para tawanan tersebut adalah para penjahat, bukan para buruh tani biasa atau tentara seperti dirinya.

“Sementara ini, saya berpendapat bahwa pemerintah pada waktu itu telah melakukan tindakan yang benar-benar salah,” kata Joop dikutip Gert Oostindie. ($.ucipto)

Gerbong Kematian Buat Para Gerilyawan Bondowoso

TH.Indonesia. Pati - Seluruh tahapan seleksi CPNS 2018 telah berakhir. Hari ini Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Pati mulai memberikan pembekalan pemberkasan di Kantor BKPP.

8000 pendaftar CPNS, 20 formasi masih kosong.

Meski demikian, dari 526 formasi yang dibuka, yang telah terisi hanya sebanyak 506 formasi. Sedangkan untuk 20 formasi lainnya, kosong alias tidak ada yang mengisi / mendaftar, padahal di awal tes CAT pesertanya mencapai 8.000 orang.

"Dari 20 formasi yang tidak terisi itu ada 7 formasi dokter gigi dan spesialis, D3 penyuluh kesehatan, juga formasi K2 yang tidak lolos", ungkap Kepala BKPP Jumani di sela-sela Pembekalan Pemberkasan CPNS hari ini.

Pembekalan terbagi menjadi 3 sesi yakni sesi pertama Kamis pagi sebanyak 170 peserta dengan formasi guru SD dan sesi kedua yang dilaksanakan pada Kamis siang setelah istirahat yaitu pukul 13.00 WIB diikuti sebanyak 164 peserta, sedangkan untuk sesi ketiga, akan dilaksanakan pada hari Jumat (11/01/19).

"Dari hasil pemberkasan ini, nantinya setelah terkumpul akan kita kirimkan ke BKN regional Yogyakarta yang bertujuan untuk ditetapkan NIP nya", imbuhnya.

Jumani juga menambahkan bahwa, pembekalan pemberkasan ini dilaksanakan, guna mengecek dan melihat secara detail data yang dikumpulkan peserta.

Sebab dalam pemberkasan ini, jangan sampai salah menulis atau melampirkan data yang ada, karena akan berpengaruh pada gaji maupun tunjangan yang didapat kelak.

Bisa jadi saat para peserta kemarin mengupload data secara online, ada yang merekayasa.

Sehingga tujuan pembekalan pemberkasan ini, menurut Jumani, agar pihaknya dapat mengecek secara detail berkas yang ada. 

Dan kalau ada peserta yang tidak dapat melampirkan salah satu syarat berkas, otomatis tidak akan mendapatkan NIP.

"Gaji serta tunjangan CPNS kan disesuaikan dengan data peserta. Oleh sebab itu format pengisian pemberkasan harus benar, jangan ada yang direkayasa. 

Kalau berkeluarga ya ditulis berkeluarga, kalau masih single ya ditulis single. Jangan malah ditulis sebaliknya, sebab akan berpengaruh dalam gaji dan tunjangan", pungkasnya. ($.ucipto)

8000 Pendaftar CPNS di Kab. Pati, 20 Formasi Masih Kosong

TH.Indonesia. Jepara - Damarwulan merupakan salah satu desa terpencil di kecamatan Keling Jepara. Dengan mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai petani menjadikan warga desa ini hidup makmur dan dapat bersaing dengan penduduk yang berada di perkotaan. 

Pembangunan kandang broiler di salah satu mitra yang di awasi langsung oleh  PPL Edi.

Pasalnya sebagian warganya mengusahakan tanaman kopi dan cengkeh yang meripakan komuditas unggulan desa tersebut, Rabu tgl (09/01/19).

Seiring berjalanya waktu sebagian warga mulai tertarik untuk mengembangkan usaha di sektor peternakan, khususnya ayam broiler. 

Dengan menggadeng salah satu kemitraan broiler ternama yaitu Sinergi yang merupakan anak perusahaan Samsung, warga desa Damarwulan berharap dapat menambah penghasilan dari usahanya tersebut. Selain itu dengan pengembangan usaha ternak broiler, diharapkan dapat memproduksi pupuk organik dari limbah ternaknya untuk dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.

Menurut Hartono salah satu warga Damarwulan sekaligus peternak binaan Sinergi, mengungkapkan bahwa semakin sempitnya lahan pertanian, petani harus menciptakan peluang agar hasil lahan garapanya tidak berkurang namun bertambah hasilnya. 

Dengan memelihara ayam broiler melalui kemitraan disampaikanya merupakan trobosan yang paling efektif karena dalam waktu yang relatif singkat peternak dapat memperoleh hasil dengan modal awal berupa kandang dan peralatan, sedangkan sapronak (sarana produksi ternak) sudah disediakan oleh mitra inti.

Masih sambung Hartono dengan menggandeng Sinergi diharapkan peternak memperoleh hasil yang optimal dikarenakan Sinergi merupakan kemitraan besar yang mempunyai sapronak sendiri sehingga peternak tidak usah khawatir dalam hal pakan telat atau waktu chick in yang terlalu lama.

Sedangkan menurut Edi selaku petugas penyuluh lapangan (ppl) dari Senergi menyampaikan bahwa pihaknya bersama tim siap untuk membimbing para peterbak di desa Damar wulan yang notabenya merupakan peternak pemula agar dapat sukses dan berkembang usahanya. 

Untuk mewujudkan haralanya tersebut masih sambung Edi pihaknya akan berkoordinasi secara penuh dengan pinpinan cabang maupun diatasnya untuk memprioritaskan dalam hal sapronak ataupun pelayanan.

Pada saat sekarang sudah ada satu peterbak yang chick ini bersama Sinergi dua dalam proses pembangunan kandang dan beberapa warga masih dalam perencanaan pembangunan. (andik)

Kemitraan Broiler Sinergi Siap Dukung Pengembangan Ternak Desa Damarwulan Jepara

TH.Indonesia. Pati - Perubahan iklim politik semakin memberi keindahan yang nyata seperti gejolak alam semesta yang memberikan warna tersendiri, terkadang berupa hujan ditengah musim kemarau atau saat musim tanam yang memberikan harapan palsu kepada petani namun tak kunjung hujan tiba, Selasa tgl (08/12/19).

Ojo leren dadi wong apik, semangat membangun negeri.

Begitulah warna politik yang semakin panas, tidak jarang kubu yang satu saling hantam baku opini publik sehingga menambah suasana bertambah panas, inilah dunia politik Indonesia.
Masyarakat pun semakin cerdas untuk memberikan pilihan, tidak bisa di pungkiri sebagian masyarakat pun larut dalam suasana iklim perpolitikan nasional, saling memberikan dukungan salah satu calon atau kandidat lainnya.

Saatnya para petani bercocok tanam sambil menunggu hujan tiba, sambil berkarya untuk maju bersama menanti saat proses tanam tiba.

Berat untuk menunggu masa yang akan tiba dimana rakyat dapat memilih sesuai seleranya, menjadikan pilihan yang tepat untuk memberikan pilihan yang ada, wakil rakyat untuk membawa sebuah aspirasi untuk dijadikan landasan perubahan iklim yang lebih baik selama lima tahun kedepannya.

Memilih sesuai hati nurani, kebangkitan perubahan iklim politik tidak menyurutkan para kader untuk terus berjuang dan berkarya, tidak salah lagi untuk memilih untuk memberikan daya upaya pikiran dan kerja nyata, wujud menjadi wakil rakyat yang lebih baik.

Saatnya yang muda yang berkarya membawa aspirasi masyarakat bawah dalam semangat mengibarkan panji-panji kebenaran, bukan janji-janji palsu selama ini.

Rakyat tidak butuh janji-janji palsu, masyarakat sudah cerdas untuk memberikan suaranya memilih wakil yang dapat membawa inspirasi dan aspirasi yang tepat guna, bukan memilih kucing dalam karung yang hanya memikirkan perutnya sendiri selama ini.

Pilihan yang akan membawa perubahan arah iklim politik yang lebih baik, mendinginkan suasana bukan menjadi kompor yang akhirnya dapat meledak dan membumi hanguskan alam marwah saat ini.

Majulah negeriku Indonesia untuk menuju harapan yang lebih baik dalam membangun nilai nilai kebangsaan yang lebih baik, saatnya rakyat memberikan sumbangsih dalam menentukan pilihan agar rakyat hidup aman, makmur dan sejahtera.

Yang muda yang berkarya bukan janji melainkan bukti sebuah karya yang nyata. 

Saatnya tunas bangsa tunas tunas muda mulai bersinar di era globalisasi era generasi milineal sekarang ini. Jadilah pemimpin yang cerdas untuk Bangsa dan Negara Indonesia.

Sedangkan saat dikonfirmasi mengenai visi misi mas Ali Mistafiddin sebagai Caleg PBB no. 2 menyampaikan akan melakukan perubahan pembangunan yang mengacu pada usaha yang berbasis UMKM untuk mencapai kesejahteraan ekonomi ditingkat mikro dan menengah agar lebih bersaing di tingkat regional dan nasional. ($.cipto)

Semangat Membangun Negeri, Ojo Leren Dadi Wong Apik

TH.Indonesia. Pati - Audensi terkait polemik yang ada di desa Tanjungrejo kecamatan Margoyoso kabupaten Pati, warga menuntut transparansi laporan SPj terkait pembangunan yang menggunakan aliran Dana Desa selama kepemimpinan Kades Haryasit beberapa waktu periode tahun 2015 - 2018.

Kades Haryasit menerima para tokoh pemuda dan masyarakat di balai desa pada audiensi hari ini.


Warga dan masyarakat sudah sangat geram dengan kepimpinan Kades Haryasit juga perangkat desa terutama Waji sebagai Kaur Keuangan yang tidak pernah transparan tentang laporan keuangan Dana Desa selama ini, Sabtu tgl (05/12/19).

Beberapa perwakilan warga dalam hal ini Mr. Fauzi sebagai salah satu tokoh pemuda dan masyarakat mengungkapkan keprihatinan atas perilaku yang menyimpang dari permasalahan pembangunan desa yang bersumber dari Dana Desa.

Disinilah mulai muncul polemik yang mendasari warga dan tokoh pemuda dan masyarakat menuntut haknya, akibat dari banyaknya pembangunan yang ada sangat tidak layak dan tidak sesuai dari apa yang diharapkan, bahkan yang ada adalah mark up hingga tidak sesuai RAB yang ada selama ini.

Waji sebagai perangkat desa yang seharusnya melayani kepentingan masyarakat setiap dikonfirmasi tidak pernah ada dikantor Balai Desa, bahkan setiap dihubungi melalui via telepon selalu mengatakan sibuk dengan pekerjaan lain yaitu sebagai pemilik koperasi simpan pinjam KSP Makmur Mandiri Sejahtera.

Joko salah satu pegawai koperasi yang membawa nasabah empat orang menuntut juga pertanggungjawaban perangkat tersebut kepada Waji selaku pendiri dan pemilik koperasi KSP MMS bahkan ribuan nasabah terbengkalai macet tidak bisa di ambil dana tabungannya karena koperasi dinyatakan kolaps.

Mbah Suminah salah seorang nasabah warga desa Ngemplak Kidul yang mengikuti arisan atau program tabungan yang setiap bulannya mencapai 400rb hingga kini terkumpul mencapai 8juta sampai hari ini tidak pernah bisa diambil atau dicairkan karena tutup koperasinya.

Waji selaku pimpinan koperasi dan perangkat desa dalam hal ini dituntut oleh masyarakat dan nasabah untuk jujur dan mengembalikan dana nasabah terutama nasabah yang sudah mengikuti program tabungan dan deposito.

Akhir dari audiens Mr. Fauzi sebagai tokoh pemuda dan masyarakat meminta pertanggungjawaban Kades dan jajarannya untuk lebih transparan terkait pelaksanaan pembangunan yang menggunakan Dana Desa selama ini sesuai pagu yang ada, terkait RAB dan LPj.

Pembangunan seperti gorong gorong menghabiskan anggaran 25juta dengan lebar 1m dan panjang 4,5m, juga pagar puskesmas menghabiskan dana sebesar 43,5 juta panjang 10m, masyarakat menilai tidak masuk akal dengan anggaran sebesar itu yang ternyata tidak sesuai dengan RAB yang ada.

Salah satu tokoh masyarakat mas Ahmad Sumani mengatakan warga sudah sangat prihatin dengan kondisi desa Tanjungrejo, sebab dari perilaku dari para pelaksana pemerintahan Desa sangat merugikan dari segi pembangunan yang ada hingga hari ini.

Adapun saudara Waji setelah diklarifikasi mengatakan bahwa nasabah koperasi sudah terbayarkan hampir 1,4 M dan sisa tinggal 300 juta, sedangkan untuk absensi kantor bisa dicek langsung dikantor balai desa untuk kehadirannya, bahkan pelayanan hampir 24 jam siap membantu atau melayani jika ada masyarakat yang membutuhkan.

Waji Kaur Keuangan menyatakan siap mengklarifikasi permasalahan tersebut. 

Dan audiens pada hari ini, Kades akan menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Mr. Fauzi salah satu tokoh pemuda untuk lebih meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat juga akan lebih transparansi terkait LPj pembangunan Dana Desa selama ini melalui surat tembusan kepada pemerintah Desa Tanjungrejo. ($.ucipto)

Audiensi Warga Desa Tanjungrejo Menuntut Transparansi Anggaran Dana Desa