TH.Indonesia. Pati - Adakah seorang sosok di Bumi Nusantara ini yang mewakili seorang karakter “Satria Piningit” tentu tidaklah asing dan begitu familiar di kalangan masyarakat Pulau Jawa atau jika saya tidak berlebihan bisa dikatakan fenomenal, karena ia tidak lekang dan tidak lapuk oleh perkembangan zaman sebagai sebuah istilah yang merujuk kepada sosok pemimpin yang ideal dan diidam-idamkan yang akan membawa Nusantara menjadi mercu suar peradaban dunia, Selasa tgl (30/07/19).

Adakah sosok Satrio Piningit yang dirindukan oleh semua kinasih sekarang ini.

Tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yg mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” ini dengan ramalan Prabu Jayabhaya, padahal di dalam kitab yg berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo” yang ditulis oleh Prabu Sri Jayabhaya justru tidak ditemukan satu pun bait yang menyebutkan kata “Satrio Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam kitab yg berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Ratu Amisan”.

Dan tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yang mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” ini dengan Ramalan Ronggowarsito, padahal Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito di dalam kitabnya yg berjudul “Serat Kalathida” juga tidak menyebutkan kata “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam kitab yang berjudul “Serat Kalathida” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, “Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, “Satrio Jinumput Sumelo Atur, “Satrio Lelono Topo Ngrame, “Satrio Hamong Tuwuh, “Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu”.

Dan bahkan tidak sedikit pula dari masyarakat pulau jawa (khususnya Jawa Barat) yang mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” ini dengan Uga Wangsit Siliwangi, padahal di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi sendiri juga tidak ditemukan satu pun bait yg menyebutkan kata “Satrio Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi itu justru hanya ditemukan diksi kata “Bocah Angon” dan “Bocah Janggotan”.

Lalu pertanyaaannya yang cukup menggelitik adalah dari manakah gerangan asal mula munculnya istilah “Satrio Paningit” hingga istilah ini menjadi begitu familiar di telinga masyarakat Nusantara...?

Usut punya usut, dan juga cek n ricek, ditambah dengan upaya pencarian dan penelusuran yang panjang, akhirnya istilah menemukan yakni salah satunya dalam buku yang berjudul “Menggugat Mitos, Meluruskan Filosofi dan Pemikiran Menuju Islam Kaffah” yang ditulis oleh Roni Djamaloeddin bahwa ternyata istilah “Satrio Piningit” itu justru muncul pada zaman para “Wali Songo” (wali sembilan) ketika menjalankan misinya mensyiarkan ajaran Islam di tanah jawa.

Dan istilah “Satrio Piningit” inipun ternyata aslinya bukan tertulis satrio piningit melainkan tertulis sebagai “SADRIYA PININGIT” yang ditulis dalam bahasa jawa kuno yang berasal dari kata “SAD” yg berarti “enam”, “DRIYA” yg bermakna “indriya/indera tubuh” dan “PININGIT” yang berarti “memingit, menyembunyikan, menutup” sehingga istilah “SADRIYA PININGIT” bermakna “memingit atau menutup enam indera dalam tubuh manusia”. ($.ucipto~bersambung)

Siapakah Sebenarnya Sosok Satrio Piningit Ini.. .?

TH.Indonesia. Pati - Adakah seorang sosok di Bumi Nusantara ini yang mewakili seorang karakter “Satria Piningit” tentu tidaklah asing dan begitu familiar di kalangan masyarakat Pulau Jawa atau jika saya tidak berlebihan bisa dikatakan fenomenal, karena ia tidak lekang dan tidak lapuk oleh perkembangan zaman sebagai sebuah istilah yang merujuk kepada sosok pemimpin yang ideal dan diidam-idamkan yang akan membawa Nusantara menjadi mercu suar peradaban dunia, Selasa tgl (30/07/19).

Adakah sosok Satrio Piningit yang dirindukan oleh semua kinasih sekarang ini.

Tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yg mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” ini dengan ramalan Prabu Jayabhaya, padahal di dalam kitab yg berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo” yang ditulis oleh Prabu Sri Jayabhaya justru tidak ditemukan satu pun bait yang menyebutkan kata “Satrio Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam kitab yg berjudul “Pralembang Joyobhoyo” atau “Serat Musarar Joyobhoyo” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Ratu Amisan”.

Dan tidak sedikit pula dari masyarakat Pulau Jawa yang mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” ini dengan Ramalan Ronggowarsito, padahal Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito di dalam kitabnya yg berjudul “Serat Kalathida” juga tidak menyebutkan kata “Satrio Piningit” atau “Satria Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam kitab yang berjudul “Serat Kalathida” itu justru hanya ditemukan diksi kata “Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, “Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, “Satrio Jinumput Sumelo Atur, “Satrio Lelono Topo Ngrame, “Satrio Hamong Tuwuh, “Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu”.

Dan bahkan tidak sedikit pula dari masyarakat pulau jawa (khususnya Jawa Barat) yang mengkaitkan istilah “Satrio Piningit” ini dengan Uga Wangsit Siliwangi, padahal di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi sendiri juga tidak ditemukan satu pun bait yg menyebutkan kata “Satrio Piningit” secara lugas dan tersurat.

Di dalam naskah Uga Wangsit Siliwangi itu justru hanya ditemukan diksi kata “Bocah Angon” dan “Bocah Janggotan”.

Lalu pertanyaaannya yang cukup menggelitik adalah dari manakah gerangan asal mula munculnya istilah “Satrio Paningit” hingga istilah ini menjadi begitu familiar di telinga masyarakat Nusantara...?

Usut punya usut, dan juga cek n ricek, ditambah dengan upaya pencarian dan penelusuran yang panjang, akhirnya istilah menemukan yakni salah satunya dalam buku yang berjudul “Menggugat Mitos, Meluruskan Filosofi dan Pemikiran Menuju Islam Kaffah” yang ditulis oleh Roni Djamaloeddin bahwa ternyata istilah “Satrio Piningit” itu justru muncul pada zaman para “Wali Songo” (wali sembilan) ketika menjalankan misinya mensyiarkan ajaran Islam di tanah jawa.

Dan istilah “Satrio Piningit” inipun ternyata aslinya bukan tertulis satrio piningit melainkan tertulis sebagai “SADRIYA PININGIT” yang ditulis dalam bahasa jawa kuno yang berasal dari kata “SAD” yg berarti “enam”, “DRIYA” yg bermakna “indriya/indera tubuh” dan “PININGIT” yang berarti “memingit, menyembunyikan, menutup” sehingga istilah “SADRIYA PININGIT” bermakna “memingit atau menutup enam indera dalam tubuh manusia”. ($.ucipto~bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar