TH.Indonesia. Pati - Sabtu tgl (20/01/18), di desa Kayen memiliki beberapa makam yang di yakini masyarakat memiliki pengaruh diwilayah yang ditinggali semasa hidupnya, antara lain yang telah terkenal dan banyak dikunjungi para peziarah maupun wisatawan religi, salah satunya makam Sariden atau yang banyak dikenal dengan sebutan Syekh Jangkung Landoh, Ki Gede Darmoyono yang disebut Makam Jati Kembar dan masih banyak lagi.

Jejak Makam Islam Nyai Puspo Dlimo di dukuh Bulloh Kayen Pati. 

Selain makam kedua leluhur tersebut masih banyak lagi yang belum terkuak atau belum di ketahui, di dukuh Bulloh Ki Calang Bantung dan ada disebelah selatan dukuh Bulloh dan di sebelah timur dukuh Karanggempol ada makam Nyai Puspo Dlimo yang diyakini oleh masyarakat sebagai leluhur yang memiliki cerita dan sejarah.

Nah, Untuk mengenai makam Nyai Puspo Dlimo memang hingga saat ini belum ada yang dapat membuka tabir misteri atau mengungkap sejarah tentang Nyai Puspo Dlimo, namun makamnya dirawat bahkan di bangun layaknya punden oleh saudara Pujo putra dari Karmijan, salah satu warga dukuh Karanggempol desa Kayen kabupaten Pati Jawa tengah.

Karena rasa keinginan tahu saya tentang makam tersebut besar sempat saya tanyakan ke berbagai tokoh masyarakat diantara dua perdukuhan yakni dukuh Bulloh dan dukuh Karanggempol, namun mereka menjawab tidak mengetahui dan saya di sarankan untuk bertanya pada Karmijan salah seorang warga dukuh karanggempol, saya sempat mampir kerumah Pak Karmijan namun tidak ketemu," ujar Mz Bambs.

Setelah beberapa lama akhirnya saya ketemu dengannya, beliau sedang membersihkan sampah di sebelah tugu samping rumahnya, akhirnya kami ngobrol dan saya tanyakan tentang sejarah makam Nyai Puspo Dlimo yang sudah lama menjadi misteri dalam perjalanan sejarah saat ini.

Dan pertanyaan saya dijawab "Aku ra ngerti persis sejarah makam Nyai Puspo Dlimo, nanging aku pernah di impeni," ungkapnya sambil menerawang jauh kedepan, seakan akan ada tabir kehidupan yang tak kasat mata.

Karmijan menceritakan bahwa dirinya pernah wiridan di makam Nyai Dlimo dan setelah wirid Pak Karmijan minta petunjuk dengan berkata sendiri "Nyai saya mohon petunjuk, sesungguhnya Nyai itu siapa, dan dari mana kok ada di sini? " tanpa di sadarinya ada suara seorang wanita yang menjawab sabar ya nak ".

Setelah sekitar satu bulan Karmijan bermimpi menerima wangsit dan petunjuk siapa adanya makam tua tentang Nyai Puspo Dlimo tersebut dan mulai ada titik terang siapa sebenarnya tentang jatidiri beliau.

Menurut cerita Pak Karmijan, bahwa Nyai Puspo Dlimo adalah seorang Putri yang bernama Roro Ayu Gringsing berasal dari Serang atau Banten yang pernah datang ke wilayah kadipaten Pati sebagai utusan dari sang Raja hanya untuk mengembalikan sebuah Pusaka pada seorang Tumenggung di kadipaten Pati, namun sampai di kadipaten Pati tidak berjumpa dengan sang Tumenggung yang konon kabarnya sangat sakti mandraguna tersebut.

Dengan tidak bertemu dengan Tumenggung sang pembesar kadipaten Pati, pusaka tersebut akhirnya di bawa oleh Roro Ayu Gringsing, namun pusaka tersebut menjadi rebutan para prajurit Kadipaten Pati yang ingin memiliki karena keampuhannya yang mampu membuat daya gentar musuhnya.

Roro Ayu Gringsing di kejar kejar oleh para prajurit dan dengan kemampuannya sebagai salah satu utusan kerajaan, akhirnya Roro Ayu Gringsing memutuskan menghindar dari serbuan para prajurit ke arah selatan guna menghindari pertumpahan darah, hingga sampai di sebelah timur dukuh Karanggempol dan di sebelah selatan dukuh Bulloh Desa Kayen untuk mencari aman dan keselamatan.

Setelah sampai di tempat tersebut Roro Ayu Gringsing beretemu dengan seorang pria yang tidak diketahui namanya, dan Roro Ayu Gringsing di tanya " kamu kok ada disini sendiri kamu siapa dan dari mana " akhirnya Roro Ayu Gringsing menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Pada akhirnya Roro Ayu Gringsing di sarankan untuk tetap tinggal di situ dan menancapkan pusaka tersebut ke tanah.

Setelah ditancapkan ke tanah akhirnya pusaka hilang dan lenyap seakan akan ditelan bumi, dan Roro Ayu Gringsing disarankan untuk tetap tinggal di daerah tersebut.

Demi keselamatan keamanan Roro Ayu Gringsing disarankan tidak pakai nama Roro Ayu Gringsing untuk sebagai penyamaran hingga akhirnya di beri nama mbok Puspo Dlimo, sehingga sampai meninggal di daerah tersebut hingga sampai sekarang Makamnya dijuluki Nyai Puspo Dlimo. ($.bambang)




Nb : Penulis adalah seorang budayawan, pemerhati sejarah & lingkungan.

Jejak Sejarah Makam Keramat di Dukuh Buloh Kayen Pati

TH.Indonesia. Pati - Sabtu tgl (20/01/18), di desa Kayen memiliki beberapa makam yang di yakini masyarakat memiliki pengaruh diwilayah yang ditinggali semasa hidupnya, antara lain yang telah terkenal dan banyak dikunjungi para peziarah maupun wisatawan religi, salah satunya makam Sariden atau yang banyak dikenal dengan sebutan Syekh Jangkung Landoh, Ki Gede Darmoyono yang disebut Makam Jati Kembar dan masih banyak lagi.

Jejak Makam Islam Nyai Puspo Dlimo di dukuh Bulloh Kayen Pati. 

Selain makam kedua leluhur tersebut masih banyak lagi yang belum terkuak atau belum di ketahui, di dukuh Bulloh Ki Calang Bantung dan ada disebelah selatan dukuh Bulloh dan di sebelah timur dukuh Karanggempol ada makam Nyai Puspo Dlimo yang diyakini oleh masyarakat sebagai leluhur yang memiliki cerita dan sejarah.

Nah, Untuk mengenai makam Nyai Puspo Dlimo memang hingga saat ini belum ada yang dapat membuka tabir misteri atau mengungkap sejarah tentang Nyai Puspo Dlimo, namun makamnya dirawat bahkan di bangun layaknya punden oleh saudara Pujo putra dari Karmijan, salah satu warga dukuh Karanggempol desa Kayen kabupaten Pati Jawa tengah.

Karena rasa keinginan tahu saya tentang makam tersebut besar sempat saya tanyakan ke berbagai tokoh masyarakat diantara dua perdukuhan yakni dukuh Bulloh dan dukuh Karanggempol, namun mereka menjawab tidak mengetahui dan saya di sarankan untuk bertanya pada Karmijan salah seorang warga dukuh karanggempol, saya sempat mampir kerumah Pak Karmijan namun tidak ketemu," ujar Mz Bambs.

Setelah beberapa lama akhirnya saya ketemu dengannya, beliau sedang membersihkan sampah di sebelah tugu samping rumahnya, akhirnya kami ngobrol dan saya tanyakan tentang sejarah makam Nyai Puspo Dlimo yang sudah lama menjadi misteri dalam perjalanan sejarah saat ini.

Dan pertanyaan saya dijawab "Aku ra ngerti persis sejarah makam Nyai Puspo Dlimo, nanging aku pernah di impeni," ungkapnya sambil menerawang jauh kedepan, seakan akan ada tabir kehidupan yang tak kasat mata.

Karmijan menceritakan bahwa dirinya pernah wiridan di makam Nyai Dlimo dan setelah wirid Pak Karmijan minta petunjuk dengan berkata sendiri "Nyai saya mohon petunjuk, sesungguhnya Nyai itu siapa, dan dari mana kok ada di sini? " tanpa di sadarinya ada suara seorang wanita yang menjawab sabar ya nak ".

Setelah sekitar satu bulan Karmijan bermimpi menerima wangsit dan petunjuk siapa adanya makam tua tentang Nyai Puspo Dlimo tersebut dan mulai ada titik terang siapa sebenarnya tentang jatidiri beliau.

Menurut cerita Pak Karmijan, bahwa Nyai Puspo Dlimo adalah seorang Putri yang bernama Roro Ayu Gringsing berasal dari Serang atau Banten yang pernah datang ke wilayah kadipaten Pati sebagai utusan dari sang Raja hanya untuk mengembalikan sebuah Pusaka pada seorang Tumenggung di kadipaten Pati, namun sampai di kadipaten Pati tidak berjumpa dengan sang Tumenggung yang konon kabarnya sangat sakti mandraguna tersebut.

Dengan tidak bertemu dengan Tumenggung sang pembesar kadipaten Pati, pusaka tersebut akhirnya di bawa oleh Roro Ayu Gringsing, namun pusaka tersebut menjadi rebutan para prajurit Kadipaten Pati yang ingin memiliki karena keampuhannya yang mampu membuat daya gentar musuhnya.

Roro Ayu Gringsing di kejar kejar oleh para prajurit dan dengan kemampuannya sebagai salah satu utusan kerajaan, akhirnya Roro Ayu Gringsing memutuskan menghindar dari serbuan para prajurit ke arah selatan guna menghindari pertumpahan darah, hingga sampai di sebelah timur dukuh Karanggempol dan di sebelah selatan dukuh Bulloh Desa Kayen untuk mencari aman dan keselamatan.

Setelah sampai di tempat tersebut Roro Ayu Gringsing beretemu dengan seorang pria yang tidak diketahui namanya, dan Roro Ayu Gringsing di tanya " kamu kok ada disini sendiri kamu siapa dan dari mana " akhirnya Roro Ayu Gringsing menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Pada akhirnya Roro Ayu Gringsing di sarankan untuk tetap tinggal di situ dan menancapkan pusaka tersebut ke tanah.

Setelah ditancapkan ke tanah akhirnya pusaka hilang dan lenyap seakan akan ditelan bumi, dan Roro Ayu Gringsing disarankan untuk tetap tinggal di daerah tersebut.

Demi keselamatan keamanan Roro Ayu Gringsing disarankan tidak pakai nama Roro Ayu Gringsing untuk sebagai penyamaran hingga akhirnya di beri nama mbok Puspo Dlimo, sehingga sampai meninggal di daerah tersebut hingga sampai sekarang Makamnya dijuluki Nyai Puspo Dlimo. ($.bambang)




Nb : Penulis adalah seorang budayawan, pemerhati sejarah & lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar