Om BOB Angkat Bicara, Regulasi Ini Harus Kembali ke Undang Undang Desa dan Konstitusi, Harus Kembali Sesuai Amanah UU DESA

THI. Pati - Polemik besar pengisian perangkat desa di kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi isu besar yang dinilai banyak kejanggalan tentang regulasi. Hal ini membuat salah satu aktivis di Pati angkat bicara menanggapi persoalan ini, jumat tgl (15/04/22).

Pengisian perangkat desa harus kembali ke Konstitusi dan Undang Undang Desa sesuai amanah UU DESA.

Menurutnya, terkait pengisian perangkat desa, apa yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dengan dalih memberikan fasilitas itu salah kaprah. Sudah jelas ini bentuk perampasan hak konstitusi. Hal ini sudah di amanahkan kepada Desa, melalui UU (Undang-Undang) tentang Desa.

"Apa yang dirampas adalah bagaimana desa itu mengelola. Mulai dari pengisian perangkat desa itu sudah di atur disini. Lalu siapa yang harus mengisi? Ya jelas Desa, siapa yang harus melantik?. Ya Kepala Desa, siapa yang harus memberhentikan? Juga Desa," ungkap Slamet Widodo S.H yang akrab di panggil Om Bob.

Bicara fasilitas, lanjut Bob. Pemkab itu sebenarnya sebatas membuatkan jadwal, kalau memang Desa tidak bisa membuat soal Pemkab bisa memfasilitasi membuatkan soal, namun sistem pelaksanaannya itu sepenuhnya hak prerogatif milik Desa, sebagaimana sesuai amanah UU Desa.

"Soal adanya campur tangan Ombudsman dengan alasan tidak kemampuannya desa dalam mengelola. Semestinya jangan sepenuhnya di salahkan desa, mengingat aparatur desa melangkah itu atas perintah dan petunjuk atasan. Aparatur desa melangkah atas perintah serta petunjuk atasannya yaitu Bupati yang memiliki kepanjangan tangan Camat," ujarnya.

Menanggapi adanya penundaan pelaksanaan pengisian perangkat yang di tekankan wakil rakyat di DPRD Pati. Ini adalah respon bagus para anggota dewan mau memperjuangkan apa yang menjadi hak Desa. Itu patut diapresiasi, tapi jangan sampai setengah setengah.

"Yang penting jangan setengah setengah atau panas-panas tai ayam, agar nantinya pengisian perangkat Desa itu dikembalikan ke desa sesuai dengan amanah UU, karena perangkat desa itu SK (Surat Keputusan) juga dari Kepala Desa (Kades) bukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati," pungkas Om Bob.

Ditambahkan, dalam aturannya mengenai pengisian perangkat desa. Yang lebih berhak dalam bertindak adalah Pemdes dalam hal ini Kades. Apalagi di Pati Kades punya Pasopati, setidaknya Pasopati bisa memperjuangkan hak para Kades, jangan terkesan diam.

"Pasopati kan organisasi besar. Pasti punya visi dan misi yang jelas, tapi kenapa tidak pernah gerak soal ini. Apa pasopati ini takut sama Bupati dan jajarannya atau bagaimana ya saya tidak tahu," tandasnya. (Dn/Mds)

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال